Rasa Dari Keremajaan
Clarissa menempelkan kaleng minuman dingin ke wajahku.
"Dingin!"
"Bagus, itu tandanya sarafmu masih berfungsi," dia menyodorkan minuman itu padaku. Kopi susu. Kesukaanku.
"Dengar, Tuan Telmi," Clarissa menopang dagu dengan lututnya, menatapku lekat. "Dalam penulisan naskah, karakter antagonis yang terlihat sempurna di awal cerita itu biasanya membosankan. Pembaca tidak suka kesempurnaan. Pembaca suka... flaw. Cacat."