Ada satu cerita pendek yang selalu membuat mataku berkaca-kaca setiap kali kubaca ulang: 'The Last Leaf' karya O. Henry. Bukan tentang cinta romantis, tapi lebih tentang pengorbanan dan ikatan persahabatan yang dalam. Johnsy, seorang perempuan muda, sakit parah dan yakin akan mati ketika daun terakhir di pohon di luar jendelanya gugur. Tapi daun itu tak kunjung jatuh, memberinya harapan untuk sembuh. Di akhir cerita, kita tahu itu adalah lukisan sang tetangga tua, Behrman, yang rela bekerja di tengah hujan deras dan akhirnya meninggal karena pneumonia demi menyelamatkan nyawanya.
Yang bikin cerita ini menghancurkan adalah detail-detail kecilnya: bagaimana Behrman selalu bicara tentang 'masterpiece' yang belum pernah ia ciptakan, dan ternyata karya terbesarnya justru adalah daun palsu itu. Ironinya, ia mati untuk sesuatu yang bahkan bukan seni 'nyata'. Ini mengingatkanku bahwa cinta—dalam bentuk apa pun—seringkali tentang memberi tanpa pernah dilihat, tentang menjadi hujan yang basah kuyup demi menjaga seseorang tetap kering.