Dua Tuan Tampan
Matanya yang biasanya memancarkan semangat kini memudar, terpaku pada aspal yang retak-retak di bawah sepatunya.
Tas ransel usang nya terasa memberat di pundak, isinya bukan sekadar benda mati, melainkan impian yang tertuang dalam lembaran-lembaran kertas.
Di dalamnya ada buku sketsa kesayangan, tempat ia melarikan diri dari realita yang mencekik. Setiap guratan pensil, setiap warna, adalah napas lain bagi jiwanya. Mungkin, pikirnya getir, inilah saatnya ia menghadapi kenyataan bahwa impian menjadi ilustrator sukses hanyalah angan-angan belaka.
Sikat na Kabanata