Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Cinta di Balik Singgasana

Cinta di Balik Singgasana

katanya, suaranya lembut. Ia meraih kain kecil dari pakaiannya. Puisi pendek tertera di sana, ditulis dengan aksara halus Di tepi kolam, bawah ketapang tua, Hati kita bebas, meski dunia menutup. Jika takdir memisah, di bukit ‘kan kutunggu, Dengan melati dan kenanga, untukmu selalu. Raka membaca puisi itu. Jantungnya berdegup keras. “Ini… indah, Gusti,” katanya, suaranya serak. “Aku simpan ini, sebagai pengingat.”
781 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 15 kali sebagai puisi w.s rendra pendek
Baca
+Pustaka
Fragmen di Bawah Hujan

Fragmen di Bawah Hujan

suaranya bergetar, penuh rindu dan takut sekaligus. Sosok itu tidak bergerak. Tapi ketika Aira mendekat, ia melihat tangan yang menggenggam pena, menulis sesuatu di kertas lusuh di depan lampu. Ia membaca pelan, membisikkan kalimat yang sedang ditulis: "Jika cinta bisa hidup di antara abu, maka biarkan aku jadi debu yang menempel di jarimu." Aira tertegun. Itu tulisan Rendra.
10972 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 32 kali sebagai puisi w.s rendra pendek
Baca
+Pustaka
Dilema Cinta

Dilema Cinta

gumam Rendra dalam hati “Nyaman juga loe memeluk gue ty, yang lama pun gue jabanin” Rendra masih berkata dalam hati “Oh, ujan janganlah berlalu dahulu agar aku bisa berlama-lama dengan pujaan hatiku.” pinta Rendra kepada sang hujan dantentunya masih didalam hati, sedangkan Tya masih ketakutan.
103.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 98 kali sebagai puisi w.s rendra pendek
Baca
+Pustaka
Rindu Yang Terpendam

Rindu Yang Terpendam

Ya, cita-citanya ingin menjadi pelayaran biar bisa mengelilingi dunia katanya. Kami pun akhirnya LDR. Sebelum berangkat dia berpesan padaku, "Jaga mata dan hatimu, doakan dan tunggu aku kembali, aku pasti akan menjemputmu sayang". katanya sambil memelukku dengan erat. Tidak terasa air mataku berlinang. Dengan cepat dia dia menghapusnya sambil berkata "Jangan menangis sayangku, aku menyayangimu dan aku akan setia padamu".
106.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 152 kali sebagai puisi w.s rendra pendek
Baca
+Pustaka
Pelukan Hangat Tuan Presiden

Pelukan Hangat Tuan Presiden

Apa ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan? Rendra membaca pesan tersebut dengan saksama. Alih-alih membalas lewat ketikan teks yang panjang, ia kembali mengetikkan pesan singkat yang baru. [ Apa kamu bisa ditelepon sekarang? ] Pesan itu baru saja menunjukkan status terkirim, namun belum sempat Rendra menarik jemarinya dari layar, ponsel di genggamannya sudah bergetar panjang.
1029.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.1K kali sebagai puisi w.s rendra pendek
Baca
+Pustaka
RINDU MENJANDA

RINDU MENJANDA

Aku memberikan itu, agar Bu Rindu tak melupakanku seiring berjalannya waktu. Suatu saat aku akan datang menemui Bu Rindu. Entah itu cepat atau lambat, setelah waktunya tepat nanti. Sudah dulu ya, Bu. Suratnya cukup sampai disini. Ada pantun lagi nih sebagai penutup. Empat kali empat sama dengan enam belas. Sempat nggak sempat nggak usah di balas. Heheheh. Salam dari lelaki yang mengagumimu.
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 91 kali sebagai puisi w.s rendra pendek
Baca
+Pustaka
Ruang Rindu

Ruang Rindu

"Ada ap-" "Jawab pertanyaanku brengsek! Kamu siapa?!" bentakku semakin menjadi-jadi. "Aku Candra Aditama, ada apa ini? Kamu kenapa?" Jawab kang Candra menurukan tangaku, mencoba mengambil pisau di tanganku, dasar aku keras kepala. Aku menahannya bahkan sebagian tanganku mulai memutih karena aku terlalu menekan pegangan pisau, seandainya pisau ini melukainya pun aku yakin tidak akan meninggalkan bekas yang parah, panjang pisau ini hanya sekitar 13 cm. Jadi aku tidak perlu takut seandainya nanti tercatat kriminal, aku tidak bermaksud membunuh.
107.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 177 kali sebagai puisi w.s rendra pendek
Baca
+Pustaka
Luka di Ujung Senja

Luka di Ujung Senja

Tapi ia tidak berhenti. Seorang peserta mendekat setelah sesi. “Tulisanmu membuatku bernapas,” katanya. Anggi tersenyum canggung. “Aku juga bernapas saat menulisnya.” Ia pulang dengan langkah ringan. Menemukan medium baru terasa seperti menemukan jendela. Di rumah, Rendra mengalami masa sulit. Proyeknya terancam gagal. Ia menjadi lebih pendiam. Anggi memperhatikan, tidak menuntut.
1.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 41 kali sebagai puisi w.s rendra pendek
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
345678
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status