Di benakku 'Tanah Jawa: Pocong Gundul' berdiri sebagai gabungan horor tradisional yang disajikan dengan ritme modern. Ceritanya bermula dari datangnya tokoh utama—biasanya orang kota atau perantau—ke sebuah desa yang tampak biasa, namun penuh bisik-bisik. Desa itu punya sejarah lama: kuburan yang digali paksa, janji-janji yang diingkari, dan satu sosok yang terus mengganggu, yaitu pocong tanpa kepala yang menjadi simbol luka kolektif.
Seiring novel berjalan, alur menggabungkan penyelidikan supernatural dan penggalian ingatan masa lalu. Ada orang-orang yang menutupi dosa, ada dukun atau orang tua kampung yang tahu lebih banyak daripada yang mereka ucapkan, dan ada bocah-bocah yang melihat sesuatu yang orang dewasa tutup-tutupi. Klimaksnya biasanya ketika identitas pocong gundul terungkap bukan sekadar makhluk seram, melainkan manifestasi dari tragedi yang melibatkan pemaksaan adat, keserakahan tanah, atau balas dendam yang tak pernah selesai.
Akhirnya, novel ini memberi dua kemungkinan: pembalasan yang menenangkan atau siklus yang terus berulang. Aku suka bagaimana penulis menautkan horor personal dengan kritik sosial; setelah menutup buku, rasa takutnya masih tersisa, tapi juga ada rasa iba pada mereka yang menjadi sumber hantu itu.