Bias Cinta
“Kamu dan aku adalah anak kandung papa. Jadi, temui aku besok di restoku! Jam 9 pagi!”
Cinta tertawa singkat. Enggan menggubris pesan tersebut dan meletakkan ponselnya kembali di meja rias.
“Habis kamu putusin, Cia sepertinya jadi gila,” ujar Cinta lalu menutup mata. Lebih baik ia tidur, daripada harus meladeni gadis munafik seperti Ciara.
Bias yang juga sempat membaca pesan tersebut, langsung melonggarkan pelukannya. Ia bergeser, sedikit menjauh lalu menepuk bahu Cinta.