Suamiku, Musim Dingin Tanpa Akhir
Garis-garis itu berubah menjadi bentuk jendela, balkon, dan siluet Menara Eiffel, pemandangan pertamaku yang ingin kuabadikan.
Setelah mandi, aku memberanikan diri keluar apartemen. Jalanan Paris sibuk, tapi penuh pesona. Aku mampir ke boulangerie kecil di ujung jalan. Aroma croissant baru matang menyeruak begitu pintu berdering. Sang kasir menyapaku dengan bahasa Prancis cepat yang tak kumengerti. Aku hanya tersenyum kikuk dan berkata, “Un croissant, s’il vous plaît,” dengan logat patah-patah. Dia tersenyum ramah, lalu menyerahkan roti hangat di kertas cokelat.
Aku berjalan sambil menggigit croissant, menikmati rasa gurih, dan mentega yang meleleh di mulut. Rasanya seperti hadiah kecil sete