KEMBALINYA SANG RATU
Suasana menjadi seperti pertemuan para bijak dari masa silam, di mana setiap kata adalah pelajaran, dan setiap diam adalah jawaban.
Setelah forum selesai, Lintang menyempatkan diri untuk berjalan kembali ke makam Imam Bukhari, tempat di mana ia telah menulis surat itu. Dengan langkah pelan di bawah sinar rembulan, ia merenungi percakapan dan cermin yang terpahat di wajah rakyat Rusia. Ia merasa bahwa meski dunia ini tak menentu, satu hal tetap pasti: bahwa akar peradaban—baik yang tumbuh di Buton maupun di tanah Beruang Merah—akan selalu menuntun jalan bagi mereka yang mau mendengarkan.