WANITA KEDUA SUAMIKU
dibahunya, terlihat agak besar dan sesak, seperti dipaksa memuat sesuatu yang besar. Dengan cepat kurampas tasnya. Anita gelagapan saat aku membuka isi tasnya. Ada segepok uang, ponsel, dan dua palstik kecil sabu-sabu. Aku menatapnya tak percaya. "Kamu pemakai?" Tanyaku. Anita menunduk. "Selain tak punya harga diri, kamu juga tak punya otak! Padahal dulu saat kuliah, kamu dipilih sebagai duta anti narkoba, tapi sekarang kamu memakainya? Mantap!" Cercaku. Aku merogoh ponselku, menghubungi polisi. Anita semakin gelagapan. "Apa yang kamu perbuat, harus dipertanggung jawabkan, Nita!" Tegasku. "Halo?" Akhirnya tersambung juga. "Halo, Pak, ini saya Nayra yang tadi minta nomor ponsel Bapak, bisa k