Yuk, Nikah!
Setelah menyadari kalau barusan hanyalah mimpi, kedua lututku melemas, aku ambruk di lantai penuh keringat.
“Ya Allah, ternyata cuma mimpi ....” Kuberkata pelan penuh kelegaan.
Meski begitu, jemariku masih gemetar mengingat mimpi panas barusan. Dan ... ya ampun, aku mengompol?!
Mulutku ternganga melihat celana sudah basah. Bahkan terasa begitu lengket di dalam sana. Parah, gara-gara mimpi basah!
Kuusap wajah secara kasar, kesal. “Ya Allah, jangan sampai aku gila karena bocah itu.”