Rasaku Ditelanjangi
Ku tatap Arga yang masih duduk di tepi ranjang, terdiam seperti kehabisan kata.
Ciumanku datangkan dengan buasnya. Tidak lagi sekadar mencuri rasa, tapi melahap habis keraguan. Lidah yang mencari, menyapa, menggoda, lalu menyatu dalam ritme yang langsung dibalas Arga—tanpa tanya, tanpa jeda. Ada desah, ada dengus kecil yang lolos dari sela bibir, mengisi udara kamar dengan panas yang tak kasat mata.