Anniversary Terakhir
“Apa kamu sudah nggak cinta lagi sama aku, Nin? Malam itu kita melakukannya dan kamu tampak bahagia. Aku sadar, selama ini aku terlalu terobesesi dengan Keyra sampai tak melihat kamu. Aku sadar aku salah dan aku menyesal.”
Ucapannya terdengar menyedihkan, tapi aku malah tak bisa menahan tawa. Aku sudah hafal betul sifatnya, 10 tahun itu tidak sebentar, bahkan aku hafal berapa ukuran celana dalamnya. Bukankah itu sudah menunjukkan aku tahu luar dalam tentang dia meski dia selalu memberi jarak padaku.
“Kenapa kamu tertawa, Nin? Aku serius.” Mas Fajar mengatupkan kedua bibirnya, tampak rahangnya mengeras.