Rayuan Maut Para Tetanggaku
“Aku tadinya mau nawarin makan di restoran, Sab. Tapi kalau kamu maunya di pinggir jalan, ayo!”
Kami menuju sebuah warteg di kawasan Jakarta Selatan. Katanya, itu adalah warteg langganannya. Saat Sabrina datang, ibu penjual warteg itu sudah kenal padanya.
“Lho, Neng Sabrina! Lama nggak ke sini. Sama siapa ini?” sapa Ibu penjual, ramah.
“Iya, Bu. Kebetulan lagi sibuk, banyak tugas kuliah. Ini temen ku, Bu!” jawab Sabrina, tapi kata-katanya seakan berbeda.