Pura-Pura Rebahan
Kupejamkan sebelah mata dengan menutup layar ponsel yang pesannya sudah kubuka namin belum berani kubaca.
[Indah wajahmu menghiasi hari, senyum manismu meluluhkan hati. Hari demi jari terasa sepi, bila tawamu tak mengiringi. Tetaplah menjadi penenang hati, karena bagiku kamu begitu berarti. Teruntuk kamu yang menjadi doaku di malam hari, entah bagaimana aku harus bertindak. Bak hujan yang datang dengan kilat, tiba-tiba mengingat harap padamu membuatku sesak. Kuingin kamu tetap di sini, mengisi hati yang telah kamu tempati, menemaniku hingga renta dan menua bersama. Aku mencintaimu.]