Satu hal yang selalu membuatku senyum tiap kali menelusuri lorong buku kecil di Jakarta adalah betapa berbeda wajah tiap rumah buku independen itu.
Dari pengamatan pribadi, tidak ada satu pemilik tunggal yang bisa disebut pemilik 'rumah buku independen populer di Jakarta' secara keseluruhan — karena yang populer biasanya adalah beberapa toko berbeda dengan pemilik masing-masing. Banyak toko indie dimulai oleh individu pencinta buku, pasangan yang ingin menciptakan ruang komunitas, atau kolektif yang punya misi menerbitkan dan mendistribusikan karya lokal. Aku pernah ngobrol panjang dengan pemilik toko kecil di kawasan Menteng yang memutuskan berhenti dari pekerjaan kantoran demi menata rak dan membuat program baca untuk anak; beberapa lain dikelola oleh komunitas dan bergantian menyelenggarakan diskusi dan peluncuran buku.
Kalau kamu lagi cari tahu siapa pemilik suatu rumah buku tertentu, cara paling cepat buatku biasanya cek bio Instagram toko itu, halaman 'Tentang Kami' di situsnya, atau artikel lokal di media budaya. Kadang pemiliknya bukan nama besar, melainkan kolektif anonim — tapi justru itu yang bikin suasana toko jadi hangat dan personal. Aku suka memikirkan bahwa di balik setiap toko ada orang-orang yang benar-benar peduli pada buku dan pembaca, dan itu lebih berharga daripada sekadar satu nama di atas papan tanda.