Gokil, tato ikan goreng itu bisa jadi cerita panjang yang nggak kelihatan dari luar.
Aku pernah lihat seseorang yang pakai tato ikan goreng di pergelangan tangannya, dan dari obrolan singkat itu muncul segunung alasan: ada yang bilang itu tanda kangen kampung halaman karena setiap akhir pekan keluarganya jajan ikan goreng yang selalu hangat dan renyah; ada juga yang memilihnya karena lucu dan anti-mainstream, terkesan absurd tapi penuh cinta buat makanan sederhana. Buat beberapa orang seumuran aku, tato seperti ini lebih ke nostalgia kuliner — simbol momen-momen kecil yang bikin susah dilupakan, semacam pengingat rasa aman di saat hidup lagi ribet.
Selain memori, aku juga pernah dengar penafsiran yang lebih filosofis. Ikan yang digoreng itu semacam metafora: dari yang basah dan hidup jadi renyah dan matang, ada proses transformasi, kehilangan, tapi juga perubahan jadi bentuk yang bisa dinikmati. Itu bisa mewakili perjalanan hidup, penerimaan luka, atau bahkan kebanggaan pada identitas kelas pekerja yang akrab dengan warung dan makanan kaki lima. Visualnya pun menarik—tekstur kriuk, warna keemasan—jadi alasan estetika yang sah untuk dikalungi di kulit.
Kalau ditanya apa arti pastinya buat pemakainya, jawabannya selalu kembali ke orang itu sendiri. Aku suka saat tato sederhana membuka ruang cerita; kadang aku jadi pengen pesan sepiring ikan goreng dan denger cerita lagi—simple pleasure, ngangenin banget.