Pesugihan Kandang Bubrah
Dingin menusuk tulang, membawa serta aroma tanah basah yang bercampur dengan sesuatu yang lebih pekat—bau anyir yang samar, seperti darah yang sudah lama mengering.
Lila duduk di sudut ruangan, mendekap Jatinegara erat-erat. Anak itu menggigil, wajahnya masih basah oleh air mata. Ia tak berani mengangkat kepala, takut mendapati sesuatu yang tak seharusnya ia lihat.