Bunga Ilalang, Mahkota perawan desa
Anggita tampak bahagia berbeda sekali dengan Mas Adit yang melongo kayak orang bingung.
"Nanti untuk lebih jelasnya, diperiksain ya, Nggit."
Dan aku. Nggak tahu aku harus sedih atau bahagia dengan khabar itu. Tapi yang jelas ada rasa tidak rela. Mas Adit pun menatapku dengan tatapan sedih.
"Ya sudah, Mama berangkat ke Semarang dulu, ya. Hati-hati kalian di rumah. Syahdu, Adit, Anggita, yang rukun, jangan berantem."