Penyamaran CEO Tanaka
Sementara itu, jauh dari gedung kaca dan aroma parfum mahal, Ardi duduk di bangku kayu di depan kosnya.
Langit sore di Cabang Timur berwarna lembayung, angin membawa bau semen dan debu — aroma khas proyek yang entah kenapa mulai terasa akrab baginya.
Ia membuka ponsel, membaca pesan dari Davin sekali lagi.
“Nadine mulai mencium sesuatu.”
Dada Adrian — atau Ardi — terasa menegang.
Ia memejamkan mata, mengingat wajah Nadine: elegan, dingin, namun menyimpan luka yang ia ikut ciptakan.