Ada sensasi hangat tiap kali kumendengar lantunan 'Sholawat Nurul Musthofa', dan itu yang bikin aku rajin latihan.
Langkah pertama yang selalu kulakukan adalah menghafal lirik beserta artinya. Bukan sekadar mengingat, tapi memahami setiap kata biar penghayatan ikut naik — ini penting supaya keluaran suaramu tidak kosong. Mulai dari transliterasi, lalu pelan-pelan ke bacaan Arab jika perlu. Kalau ada huruf yang susah diucapkan, aku sering memecahnya per suku kata lalu ulang berkali-kali sampai mulus.
Setelah lirik aman, fokus ke melodi dan irama. Cari versi yang paling kau suka sebagai referensi — ada versi qasidah, gambus, atau yang lebih sederhana. Aku biasakan menyanyikannya dulu tanpa lirik, hanya hum atau nada dasar, agar bentuk frasa bernyanyi jelas. Latihan pernapasan juga penting: tandai tempat bernapas di akhir frasa bukan di tengah kata, supaya lafaz tetap rapi. Untuk mempercantik, tambahkan ornament kecil seperti melisma pada vokal panjang, tapi jangan berlebihan agar makna tetap terdengar.
Terakhir, rekam latihanmu. Aku sering heran betapa beda suaraku di telinga sendiri dibanding saat nyanyi live; rekaman membantu koreksi tajwid, tempo, dan ekspresi. Kalau bisa, gabung dengan teman atau majelis kecil untuk praktik harmonisasi dan respons, karena sholawat sering terasa lebih hidup saat dinyanyikan bersama. Yang paling penting menurutku: bernyanyilah dengan rasa hormat dan khusyuk, karena itu yang membuat lantunan benar-benar menyentuh.