PELAKOR KAPOK
Perempuan itu terus bergelayut manja, dan mencumbu leher suamiku.
Setelah masuk, mereka duduk di kursi ruang tamu, aku masih berdiri di balik lemari pajangan, ingin menyaksikan apa yang sedang mereka lakukan. Mas Lengga benar-benar tidak menyadari jika aku berdiri mengawasinya. Dia sibuk mencari sesuatu di sebuah rak tempat menaro DVD. Tidak lama, cahaya terang itu muncul dari televisi. Ternyata, Mas Lengga memutar sebuah film yang tidak senonoh. 'Inalilahi wainailaihi rojiun' kututup mulut dengan kedua tangan. Sesak, perih seperti belati menusuk sampai kehati. Yang lebih membuatku sakit, mereka memperaktikannya. Aku melihat setiap adegan demi adegan. Sakit, sesak … hik …