Ibu Susu Untuk BOSKU
kodavhanya bayangan ada di depankulihatlah semua orang menatapkudengan tatapan tajam penuh percaya dirikenapa telinga berdetak seperti jantung
Air yang menyentuh kulitku terasa menenangkan, meskipun di balik ketenangan itu, gairah di antara kami masih berdenyut kencang.
Di dalam bathtub, tubuh kami kembali saling menyentuh, air yang mengalir di sekitar kami menjadi saksi dari hasrat yang tak pernah padam. Mr. Wei mencium bahuku, kemudian leherku, sementara tangannya menyusuri setiap lekuk tubuhku di bawah air. Aku tak bisa menahan diri lagi—tanganku membelai wajahnya, menariknya lebih dekat hingga bibir kami kembali bertemu. Ciuman kami semakin panas, seolah-olah tidak ada yang bisa memadamkan api di antara kami.