Ketika Mas Gagah Tiba
Siang menjelang sore, aku, Nata, dan keluarganya sudah sampai di sebuah rumah mini malis yang tak jauh dari pusat kota.
Bangunan itu bercat abu. Ada carport dan taman kecil di bagian depannya. Lampu-lampu kristal berangka besi hitam menempel pada tiang. Rumah ini tidak terlalu besar, tapi cukup untuk keluarga kecil yang hidup merantau di kota.
Mas Nata menggenggam tanganku. Membawaku mendekati pintu. “Ayo, Sayang. Ini istana kita.”