Sentuhan Adik Sahabatku
Jennar terdiam di ambang, napasnya tertahan sesaat.
Di hadapannya terbentang sebuah ruangan dengan layar besar memenuhi dinding utama, hitam pekat dengan bingkai tipis. Di depan layar, sofa lebar berwarna abu gelap tampak empuk dan mengundang, lengkap dengan sandaran kaki. Di sudut ruangan, speaker-speaker besar tersusun rapi, memberi kesan profesional khas teater kelas atas.
“Ruu…” Jennar berbisik, matanya berkilat. “Ini… luar biasa.”