Ada sesuatu tentang Saparinah Sadli yang selalu membuatku terpukau; namanya bukan sekadar label dalam sejarah gerakan perempuan Indonesia, melainkan moodboard inspirasi untuk banyak aktivis muda yang aku kenal.
Aku melihatnya sebagai akademisi dan aktivis yang gigih — seseorang yang mendorong studi gender masuk ke ruang-ruang universitas dan diskusi kebijakan. Dari risiko mengkritik struktur sosial sampai membangun pendekatan yang lebih manusiawi terhadap pemberdayaan perempuan, jejaknya terasa di kurikulum, seminar, dan karya-karya penelitian yang terus dirujuk. Banyak orang bilang ia pionir, dan aku setuju karena pengaruhnya bukan hanya retorika: dia merawat jaringan aktivis, membimbing generasi baru, dan membantu terjemahkan isu teoretis jadi strategi praktis.
Warisan terbesarnya, menurutku, adalah cara dia menumbuhkan kebiasaan berpikir kritis soal gender — membuat orang biasa bertanya, membaca ulang, dan berani menuntut perubahan. Itu lebih dari nama di arsip; itu cara orang memandang dan berjuang untuk kesetaraan sehari-hari.