Bayang Pedang Cahaya Bulan
Kakinya tersandung, tubuhnya terhuyung, punggungnya membentur dinding batu di belakangnya.
Satu, dua, tiga.
Ia menghitung dalam kepala, bukan untuk menenangkan diri, bukan pula untuk mengusir takut, melainkan untuk mengingatkan diri bahwa ia masih hidup. Bahwa jantungnya masih berdetak. Bahwa napasnya masih keluar masuk. Satu, dua, tiga, aku masih hidup. Empat, lima, enam, aku masih bernapas.