Ada satu cerita dari novel klasik yang kubaca tahun lalu, 'The Age of Innocence' karya Edith Wharton. Endingnya tentang perselingkuhan dengan adik ipar justru berakhir dengan penuh ironi. Tokoh utamanya, Newland Archer, memilih bertahan dalam pernikahan yang tidak bahagia demi menjaga reputasi sosial. Puluhan tahun kemudian, setelah istrinya meninggal, dia punya kesempatan untuk bertemu kembali dengan si adik ipar, Ellen. Tapi ketika dia berdiri di depan hotelnya, dia memilih untuk pergi tanpa bertemu. Ending ini bikin aku merenung tentang bagaimana masyarakat sering memaksa kita mengubur perasaan demi norma.
Yang lebih menarik, novel ini tidak menggurui pembaca tentang benar atau salah. Wharton justru menunjukkan kompleksitas manusia: Newland bukan pahlawan atau penjahat, melainkan seseorang yang terjebak antara hasrat dan kewajiban. Aku suka bagaimana ending ini meninggalkan rasa getir sekaligus pengertian.