Suami Paruh Waktu
“Ya … jadi aku memang tidak sepenuhnya menginginkan sebuah kepura – puraan. Aku tahu kau menginginkan pernikahan sungguhan, tapi aku sudah katakan bahwa aku belum siap untuk melakukan semua pekerjaanku sebagai pasanganmu, lebih tepatnya tugas seorang istri. Untuk itu, sebagai opsi aku membuat surat perjanjian ini.”
“Yang coba aku inginkan dengan surat itu adalah kita bisa tetap menikah secara sungguhan dengan catatan kewajiban sebagai suami dan istri itu hanya akan dibebankan pada waktu – waktu tertentu saja sesuai dengan kesepakatan kita,” pukas Renata.
Darren mulai sedikit bisa menangkap maksut Renata, namun tidak mengerti sepenuhnya.
“Lalu, untuk kalimat yang kedua?” tanya Darren lagi.