PEMBANTU YANG DIPAKSA MENIKAHIKU ITU TERNYATA....
Dalam diam, kesedihan itu bergema, tak perlu kata-kata untuk menyuarakan kepedihan yang mendalam.
“Mbak Rindu,” panggilan itu menyadarkan dari lamunannya.
Rindu yang meringkuk sambil menundukkan kepala, mengusapkan wajahnya ke lengan sebelum bertatap muka dengan Uka, orang yang tadi memanggilnya dengan lembut.
Mereka berdua yang sejak tadi menunggu sebuah jemputan, tidak saling bicara.
Rindu pun segan meski tidak memahami jemputan macam apa yang dimaksud oleh lelaki yang duduk di sebelahnya. Ditambah, Uka sibuk dengan ponselnya yang tampak lebih bagus darinya.