Penguasa Hati
Satu untukku, kopi hitam pekat yang belum sempat ku minum tadi, dan satu lagi es teh.
“Ini.” Dia menyerahkan kopi itu padaku. Tangannya menyentuh punggung tanganku sebentar. Sentuhan singkat, tapi berhasil membuat debaran asing itu kembali mengusik.
“Terima kasih,” gumamku, hampir tidak terdengar. Aku masih merasa aneh, canggung, dan sedikit … takut. Takut akan hal yang tidak ku ketahui. Atau takut pada Clara.
Hot Chapters