SUAMIKU MATI DI TANGANKU
Mengatur napas sejenak, mengembalikan energi, kami memaksimalkan kembali waktu beristirahat kami.
Badan rasanya sudah mati rasa. Dingin air danau sudah tidak lagi terasa. Kulihat tapak tanganku, sudah kisut seperti kulit nenek-enek usia lanjut karena terlalu lama terendam air. Rinda di hadapanku juga terlihat mengkhawatirkan. Dia berwajah pucat dengan bibir kebiruan yang tak henti bergetar. Aku kasian padanya, walau sebenarnya bentuk wajahku lebih berantakan lagi.