Menantu Kaya Dipuja, Menantu Miskin Dihina
Ucapku memulai pembicaraan, seraya menaruh kopi di meja depannya.
“Semoga.” Jawabnya berharap. Kami masih menunggu telpon dari Toni. Karena belum tahu juga, Lika lembur kerja atau tidak malam ini. Gawai dari memasuki magrib, tak terlepas dari genggaman. Takut tak mendengar telpon dari Toni.
“Diminum dulu, Mas, kopinya! Biar nggak ngantuk nanti,” suruhku, Mas Riko mengangguk dan mengambil kopi itu. Meniup perlahan dan menyeruputnya.