Nilakandi
Nafas Nilakandi semakin tak beraturan, sebisa mungkin ia berusaha menghindari tatapan mata Ten yang begitu dekat.
Tangan Nilakandi bergetar hebat, hatinya terus-terusan memanggil nama Diwana.
“Kamu harusnya udah sekarat kalau minum wine itu, sayang sekali. But its okay, you’re gonna die today anyway. Aku justru senang, bisa lihat kamu mati di depan mataku,” bisik ten di telinga Nilakandi, memperlihatkan tatto bulan sabit di belakang lehernya yang entah kenapa nampak pilu.
Bab Populer