Garis besar yang sering kubaca tentang grand duke di isekai biasanya bergantung pada siapa yang sedang bercerita. Aku sering menemukan grand duke dipakai sebagai tokoh yang mewakili kekuasaan lama: elegan, dingin, dan berbahaya—satu paket antagonis yang membuat konflik politik terasa lebih nyata. Dalam beberapa novel, mereka adalah hambatan langsung bagi protagonis: manuver politik, pembatasan sumber daya, atau intrik keluarga yang memaksa pahlawan berkembang. Saya menyukai ketika penulis menaruh lapisan moral di balik tindakannya, sehingga mereka bukan sekadar musuh supaya bisa dikalahkan, melainkan cerminan kegagalan sistem yang lebih besar.
Di sisi lain, ada pula grand duke yang berperan seperti pahlawan yang terlambat dikenali. Kadang mereka tampil sebagai sosok pakar strategi, pelindung wilayah, atau pelaku pengorbanan pribadi demi stabilitas negeri—peran yang terlihat heroik jika dilihat dari sudut pandang rakyat atau negara. Menurutku, kunci agar grand duke terasa kuat sebagai protagonis adalah motivasi yang jelas dan konsekuensi nyata dari tindakannya; tanpa itu, dia terasa seperti label bangsawan semata.
Secara personal aku paling tertarik pada versi yang abu-abu: grand duke yang berbuat keras demi tujuan mulia, atau yang punya masa lalu kelam sehingga tindakannya dipandang antagonistik. Itu memberi ruang untuk ketegangan emosional dan twist yang bikin cerita jadi lebih berkesan. Jadi, apakah grand duke antagonis atau pahlawan? Jawabannya fleksibel—tergantung sudut pandang, konteks politik dunia cerita, dan apa yang ingin disampaikan penulis lewat sosok itu.