Cinta Tak Didapatkan, Aku Pergi
Selama kami berpacaran di masa kuliah, Thomas Bakri membawa dua porsi sarapan setiap hari.
Satu untukku, satu lagi untuk teman sekamarku, Shinta Kirana.
Namun, sarapan yang Thomas belikan untukku selalu sama, yaitu roti dan bubur.
Sedangkan sarapan untuk Shinta tidak hanya bergizi, tetapi menunya juga selalu berbeda.
Bahkan saat ulang tahunku, Thomas menyiapkan dua hadiah.
Hadiah ulang tahunku hanya empat lembar kartu ucapan sederhana.
Sedangkan untuk Shinta, Thomas menyiapkan tiket konser, foto kreasi DIY berhiaskan manik-manik berlian kecil, gaun putih bak dalam dongeng, dan sebuah cincin seukuran jari kelingking.
Hingga hari wisata kelulusan, kami bertiga tiba di stasiun.
Thomas dan Shinta berhasil melewati pemeriksaan dengan kartu identitas, sedangkan aku ditahan di luar.
Thomas menepuk dahinya dengan penuh penyesalan, lalu tersenyum canggung karena merasa bersalah.
"Aku hanya beli tiket untuk Shinta, sampai lupa beli tiket untukmu."
"Lagi pula, kami sudah telanjur masuk, sayang kalau tiketnya hangus, lain kali aku ajak kamu wisata berduaan lagi."
Shinta menepuk dada sambil berjanji padaku.
"Tenang saja, aku akan bantu menjaga pacarmu."
Melihat mereka yang pergi berdampingan sambil mengobrol dan tertawa, aku hanya tersenyum pahit.
Karena tidak ingin membohongi diri lagi, aku berbalik dan membeli tiket pulang.
"Ayah, soal permintaan Ayah agar aku menikah setelah lulus … aku setuju!"
"Satu lagi, anak magang bernama Thomas Bakri yang pernah kurekomendasikan kepada Ayah … batalkan saja!"