Ada satu kisah dari sastra Indonesia yang selalu berhasil membuat suasana hati campur aduk setiap kali aku membayangkannya: 'Ronggeng Dukuh Paruk'.
Cerita ini berkisar pada seorang perempuan bernama Srintil yang dipilih menjadi ronggeng, penari tradisional yang sekaligus simbol keberuntungan dan hiburan di sebuah desa kecil. Kehidupan Srintil digambarkan dengan sangat manusiawi—dari masa kecil yang polos, peran ritualnya sebagai ronggeng, sampai bagaimana dirinya dipandang oleh warga desa yang kadang penuh penghormatan dan kadang eksploitasi. Novel ini nggak cuma soal tari; ia menyorot bagaimana seni tradisional bisa jadi pisau bermata dua: mengangkat martabat sekaligus menempatkan individu pada posisi rentan.
Di balik latar pedesaan yang sederhana, Ahmad Tohari menenun konflik sosial dan politik yang makin intens: benturan antara tradisi dan kekuatan luar, perubahan nilai, serta efek dari peristiwa nasional yang merembet sampai ke kehidupan desa. Gaya bahasanya lembut tapi tajam—banyak gambar dan dialog yang membuat pembaca seolah duduk di teras rumah, mendengarkan cerita warga Dukuh Paruk. Kalau kamu mau titik masuk yang bagus ke karya-karya yang mengangkat problematika sosial lewat nuansa Jawa yang kental, 'Ronggeng Dukuh Paruk' wajib ada di daftar bacaanmu.