Dok, Please Cukup!
Nindy menatap kain pembungkus di tangannya, tidak langsung membalas, karena kalimat itu terasa lebih besar dari yang dia duga akan keluar dari mulut Ratih malam ini.
Pintu depan terbuka sebelum Nindy sempat merespons lebih jauh, menampilkan Fikri yang baru pulang kerja, menenteng dua bungkus martabak di tangan kanannya.
"Eh, ngumpul di sini rupanya," ucap Fikri, langsung duduk di karpet tanpa bertanya sedang membahas apa, membuka salah satu bungkus martabak dan menyodorkannya ke tengah.