Selubung Memori
“Kata Isha, kucing itu salah satu hewan yang mampu merasakan kesedihan. Aku tidak merasa rautku sedih, tapi kau barangkali mengerti lebih dariku. Lavi pasti juga seperti itu. Pita, aku ini tidak tahu diuntung, ya, padahal Lavi memerhatikanku, tapi aku tidak mau dengar.”
Pita mengeong.
“Aku tidak mengerti bahasamu. Aku bukan Nadir, tapi kuanggap kau tadi mengumpat. Nada suaramu sama seperti saat aku tidur menindihmu. Penuh benci.”
Dia mengeong lagi. Aku berusaha memahaminya sedikit lebih lama karena mungkin itu cara Nadir mengerti bahasa kucing.
Dengan cepat aku menyerah. Konsep itu konyol.
Hot Chapters