Pembalasan Sang Dokter Jenius
Kotak itu terkunci, bukan dengan gembok, melainkan disegel dengan lelehan lilin berwarna merah darah di setiap sisinya.
“Apa… apa lagi itu…?” bisik Andrea, ia berpegangan erat pada lengan ayahnya, terlalu takut untuk mendekat.
Pak Sanusi hanya bisa menggelengkan kepalanya, wajahnya pucat pasi.
Joko meletakkan kotak itu di lantai teras yang bersih. Ia menatap segel lilin itu sejenak. “Niat jahat murni,” desis Khodam di benaknya. “Hati-hati, bocah. Yang ini berisi kebencian yang terfokus.”