Teman Tidur Suamiku
“Kapan-kapan, Bu. Tunggu waktu luang yang agak panjang. Ibu hati-hati di jalan, jaga kesehatan baik-baik. Aku usahakan segera pulang.”
Saat sudah berdiri di ambang pintu, Elia berhenti. Ia berbalik dan menatap Ilham lekat-lekat.
“Oh ya, sepertinya kamu harus cari ART untuk bersih-bersih dan memasak. Perlu Ibu yang carikan? Di kampung sepertinya banyak yang bisa diandalkan dan terpercaya.” Tawaran itu terdengar tulus, sebuah kepedulian seorang ibu, tetapi Ilham tahu, akan sangat berisiko jika ia menerima tawaran itu.