JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU
Wajah Laila hanya bisa memerah padam, ia menahan air matanya agar tak tumpah, demi anaknya yang sedang menonton dirinya di ujung ruang mushalah.
Ia tak ingin Watri hancur hatinya, apa lagi anaknya masih sebagai murid baru. Anak itu begitu sabar, ia cerdas meski tak bisa seperti anak yang lain. Watri yang sudah mulai beranjak dewasa hanya bisa menurut, tapi semua orang mulai menunjukkan rasa tak suka dan rasa jijik karena kasus orang tuanya.
Apalagi ia tak normal, lelehan air liurnya terus menetes saat bercerita. Bajunya kumal tak terawat, ia juga tak memiliki pendengaran yang bagus menjadikan dirinya sebagai bahan bullyian bagi para santri.