KEMBALINYA SANG RATU
“Aku adalah ulamaku dan muridku. Aku adalah penjaga Madrasah Langit dan suara petani dunia. Aku berjanji memelihara akar dan cabang, menyulam setiap perjanjian menjadi kain harmoni. Bersama, kita merdeka—merdeka dari keserakahan, merdeka dari penghancuran, merdeka untuk menumbuhkan peradaban baru.”
Embun malam menetes hangat di batu lantai, seakan memberi restu pada janji itu. Di sana, Lintang mengangkat tangannya, menyambut suara alam yang merambat: nyanyian Aborigin, gemericik daun cedar Ojibwe, tawa petani Kongo, dan desiran angin Greenland. Semua menyatu dalam satu melodi: simfoni peradaban manusia yang tak ingin hancur lagi.