Sentuhan Panas Editorku
bisik Meysa pelan namun tajam.
Wildan terdiam. Ia mempererat dekapannya, mencium rambut Meysa sekali lagi tanpa memberikan jawaban verbal.
Di balik pundak Meysa, mata Wildan menatap tajam ke arah jendela kaca. Di luar sana, petir menyambar di balik kabut tebal yang menyelimuti pegunungan, menciptakan siluet yang mencekam.
‘Badai yang sesungguhnya baru saja dimulai, Meys … dan kali ini, kita tidak hanya bertaruh soal naskah, tapi soal masa depan kehidupan kita …,’ ucap Wildan di dalam hati.
Hot Chapters