Tuan, Aku Hamil!
“Kalau ini yang kamu inginkan, kalau ini yang terbaik buat kamu... aku nggak akan maksa. Aku akan pergi.”
Tenggorokanku tercekat. Inilah akhirnya. Inilah perpisahan yang tak pernah aku bayangkan akan terjadi seperti ini. Dengan langkah berat, Widodo berdiri. Gerakannya perlahan, seolah setiap langkah membawa beban yang terlalu berat untuk dipikulnya. Matanya penuh dengan luka yang dalam, tapi ia tidak marah. Itu yang membuatnya semakin menyakitkan—dia menerima, meskipun hatinya hancur.
"Aku pamit, Dek," katanya dengan suara serak. “Mungkin ini yang terakhir kali aku di sini. Jaga dirimu... dan jaga anak itu.”