Aku, istri kedua
Awalnya aku enggan untuk ikut hadir, aku malu dengan diri ku sendiri yang belum pantas menjadi pendamping seorang ustad, bacaan ayat suciku saja masih jauh dari kata baik.
Memakai gamis warna coklat muda dengan jilbab instan yang berwarna senada, aku terus mengekori tubuh Mas Zulkifli. Nampak dari mereka menyambut imamku itu, saling tegur dan salam saling berjabat tangan sedangkan aku hanya menelungkup kan telapak tangan tanda salam. Ia di persilahkan duduk di bawah sebuah poster besar dengan gambar Masjid Agung, nama Mas Zulkifli tampak tertera dengan jelas, Di depannya nampak meja kecil dengan microphone serta beberapa minuman dan jajan diatas kotak kayu tersebut.