Episode 5

"Kalian sudah kenal sama Ibu kan? Jadi ibu tidak usah perkenalan lagi. Insyaallah selama 1 tahun Ibu akan mengajar pelajaran matematika di kelas ini." Bu Rini berbicara di depan kelas.

Ternyata bu Rini datang ke kelas untuk mengajar matematika bukan untuk mencari aku dan Sasya. Mudah-mudahan bu Rini melupakan kejadian di kantin. Aamiin doakan ya teman-teman.

Bu Rini menjelaskan tentang logaritma. Aku masih belum terlalu paham dengan yang di jelaskan bu Rini,tapi aku tidak berani bertanya.

Aku melihat temanku yang bijak itu,antusias sekali belajar matematika. Dia sangat aktif bertanya dan menjawab. Sampai bu Rini memberikan apresiasi kepada temanku itu.

Tiba saatnya bu Rini mengacak nama untuk mengerjakan soal yang ada di papan tulis. Aku berdoa,semoga bukan aku yang terpilih. Sudah 3 orang yang maju, 2 orang bisa menjawab benar dan 1 lainnya menjawab salah. Tinggal satu nama lagi yang akan di pilih. Aduh! Semoga bukan aku!

"Satu nomor lagi yang belum dijawab. Kira-kira siapa ya?" Bu Rini melihat absen kelas.

Aku yakin! Bukan aku saja yang deg-degan,tapi beberapa teman yang lainnya juga pasti ada yang deg-degan seperti aku. Kecuali si orang bijak itu, dia mengajukan diri untuk menjawab soal di papan tulis, tapi bu Rini tidak mengizinkannya. Bu Rini ingin memberikan kesempatan kepada yang lainnya,karena si bijak itu sudah pasti bisa menjawab dengan benar.

"Oke. Ibu pilih Hani! Hani! Silakan maju dan jawab soalnya!" Mampus! Aku yang disuruh jawab soalnya. Bisa atau enggak bisa aku harus maju ke depan.

Aku berjalan ke depan kelas dan mencoba menjawab soalnya. Aku sempat bingung dengan rumusnya,entah salah atau benar yang penting aku mengerjakan di papan tulis. Setelah selesai menjawab,bu Rini memeriksa jawaban aku. Ternyata sudah hampir benar,hanya saja perhitungan hasil akhirnya salah.

"Hani! Ini bagaimana kamu menghitungnya? Kamu yakin sudah Benar hasilnya?"tanya bu Rini kepadaku yang bikin aku deg-degan.

"Iya,Bu,"jawabku yang berwajah pucat.

"Benar tidak jawaban Hani?"tanya bu Rini kepada seluruh siswa.

"Salah,Bu. Yang benar jawabannya 155." Lagi-lagi si bijak yang menjawab,aku kan jadi malu kalau aku enggak bisa jawab.

"Hani! Jawaban yang benar adalah 155,paham?"kata bu Rini menekankan kata 'paham'.

"Iya paham,Bu,"aku menjawab malu.

"Makannya jangan jajan terus!"kata bu Rini yang membuat seisi kelas melirik ke arahku.

Ya Allah! Mendengar bu Rini bilang 'makannya jangan jajan terus!' hatiku terasa sakit sekali. Itu artinya,bu Rini mempermalukan aku di depan kelas kepada teman-teman kelasku. Ini yang ke-dua kalinya bu Rini mempermalukan aku. Aku jadi tidak suka dengan bu Rini.

Setelah semua pelajaran selesai,aku langsung segera pulang. Meskipun,Sasya minta di tungguin tapi aku pamit pulang duluan. Moodku hancur hari ini. Pengen nangis,tapi malu. Maka dari itu aku pengen cepat-cepat pulang biar bisa nangis di rumah.

Aku langsung masuk kamar,tanpa menghiraukan suara mamahku yang menyuruhku untuk makan. Aku langsung nangis sejadi-jadinya sampai terasa dadaku sesak sekali. 

"Kenapa bu Rini begitu banget sama aku sih? Huhuhu! Akukan enggak tahu kalau enggak boleh ke kantin setelah upacara! Huhuhu! Kalau aku tahu juga aku enggak mungkin melanggar. Huhuhu! Terus dia malah bilang seperti itu di kelas,aku kan jadi malu. Huaaaaa!huhuhu!huhuhu!"aku terus mengoceh sendiri sambil menangis dan berteriak.

Terdengar suara ketukan pintu mamah memanggil aku. Setelah puas menangis,aku baru membukakan pintu.

"Kamu kenapa nangis?"tanya mamah telihat panik melihat aku menangis. Aku tidak menjawab pertanyaan mamah melainkan aku langsung memeluk mamah dan menangis lagi.

Mamah menenangkanku sampai aku berhenti menangis,baru aku menceritakan apa yang sedang aku rasakan kepada mamah. Mamah memang obat penenang buat aku. Beliau selalu mengerti perasaanku.

Menangis itu mengeluarkan energi yang banyak apalagi aku sampai berteriak. Aku lapar! Aku langsung menghabiskan makanan yang ada di meja makan dengan rakus.

"Waduh! Kok makannya kayak orang kesurupan gitu?"kata mamah melihat aku makan rakus sekali.

"Aku lapar! Habis nangis. Apalagi tadi aku belum makan dari siang,ditambah nangis. Jadi,laparnya ekstra,"ucapku sambil mengunyah makanan yang penuh di mulut.

"Boleh dihabiskan makanannya. Tapi,jangan cepat-cepat gitu makannya nanti tersedak." Unch mamahku ini memang yang paling perhatian sama aku. Aku sayang banget sama mamah.

"Mah! Papah kapan pulang?"tanyaku yang sudah kangen sekali sama papah.

"Masih lama,3 bulan lagi,"jawab mamah.

"Yah,masih lama banget. Aku kangen sama papah." Aku memanyunkan bibir.

"Doakan saja,semoga papah baik-baik saja  di sana. Agar bisa cepat pulang,"kata mamah menenangkanku.

Di rumah, hanya ada aku dan mamah. Aku adalah anak semata wayang dari papah dan mamahku. Papahku berkerja di kapal,sehingga beliau harus berlayar selama beberapa bulan dan tidak pulang ke rumah. Lebaran tahun ini saja papah tidak pulang. Terkadang aku sedih, melihat teman-teman yang bisa berkumpul dengan keluarganya yang lengkap. Tapi,aku merasa beruntung juga masih punya papah yang berkeja keras untuk keluarga dan mamah yang selalu perhatian dan sabar. Tidak bisa dipungkiri bahwa, banyak anak-anak di luaran sana yang sudah tidak memiliki kedua orangtua. Mereka tidak sekolah,karena harus mencari uang untuk kehidupan dirinya sendiri. Dari situlah orangtuaku selalu mengajarkan agar aku selalu bersyukur.

***

Ke-esokan harinya,aku seperti tidak semangat untuk masuk ke sekolah. Aku malu sama teman-teman. Mereka pasti memandang aku buruk.

"Hani! Sudah jam segini kamu kok belum siap-siap? Nanti terlambat loh!" Mamah menyadarkan aku dari lamunan.

"Mah,aku malu." Aku memasang muka sedih.

"Sudah,lupakan saja kejadian kemarin,"kata mamah. Aku enggak mungkin melupakan kejadian itu,kejadiannya saja baru kemarin,ucapku dalam hati.

"Teman-teman pasti memandang aku buruk. Aku hanya ingin jadi yang terbaik,Mah..." Aku bergelatut di lengan mamah.

"Semua orang pasti ingin jadi yang terbaik. Tapi,kehidupan itu berputar. Seperti roda, adakalanya kita sedih dan adakalanya kita juga senang. Sekarangkan Hani lagi sedih,nih. Nah,nanti akan ada waktunya juga Hani akan bahagia. Kejadian yang kemarin tidak usah di ungkit-ungkit lagi. Memangnya Hani bisa kembali kepada kejadian kemarin agar Hani tidak pergi ke kantin dan tidak di permalukan di kelas?"tanya mamah serius.

"Tidak bisa." Aku menggelengkan kepala.

"Maka dari itu,karena kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Biarkanlah itu berlalu. Yang harus kamu persiapkan adalah masa depan bukan masa lalu. Jadi harus semangat dong! Buktikan kalau Hani bisa menjadi yang terbaik!" Kata-kata memang yang paling bisa menyentuh hatiku. Mendengar itu,semangatku kembali lagi.

Aku segera siap-siap berangkat ke sekolah. Meskipun aku masih sedih dengan kejadian kemarin. Tapi,mamah berhasil membuatku semangat lagi.

Sampai di kelas,aku tidak banyak berbicara dan bergerak. Bahkan aku tidak keluar dari tempat dudukku sampai  bel istirahat. Aku jadi trauma ke kantin,dan aku memilih untuk menitip beli makanan kepada Sasya.

Sambil menunggu Sasya ke kantin,aku melamum di kelas. Ada beberapa temanku yang tidak ke kantin juga. Lamunanku tersadar,ketika melihat teman aku yang bijak itu duduk di depan aku,lebih tepatnya di sebelah Santi. Mereka kelihatannya sedang asyik mengobrol. Aku sedikit menguping pembicaraan mereka. Aku mendengar Santi memanggil nama temanku yang bijak itu dengan nama 'Ferdi'. Sekarang aku sudah tahu ternyata dia bernama Ferdi. Kelihatannya dia akrab baget sama Santi.

Ketika Sasya balik ke kelas dan membawa makanan. Aku tenang sekali,kejadiannya tidak seperti kemarin.

"Sya! Alhamdulillah belum ada guru yang masuk,"kataku sumringah.

"Ya iyalah! Sekarang kan masih waktu istirahat. Guru-guru juga mau istirahat juga,"jawab Sasya dengan santainya. Tiba-tiba suara bel masuk berbunyi.

"Apa? Sekarang udah masuk lagi?" Sasya kaget mendengar bel masuk.

"Iya. Sekarang istirahatnya hanya 15 menit,nanti pas waktu dzuhur baru istirahatnya setengah jam,"kataku yang sebenarnya kaget juga karena makananya belum di makan.

"Jadi gimana dong?"tanya Sasya lemas,karena dia belum makan.

"Ya udah, makan aja dulu sedikit. Sambil nunggu gurunya datang." Saranku kepada Sasya.

Kamipun makan makanan yang sudah di beli di kantin,baru beberapa suap aku melihat guru dari jendela.

"Sya! Sya! Sya! Udah makannya! Gurunya datang cepat kamu minum!" Aku memberitahu Sasya.

"Ya Allah! Padahal aku masih lapar,tapi lumayan sih beberapa suap udah masuk ke mulutku buat ganjal perut." Sasya sambil memegang perutnya setelah minum.

"Beruntungnya lagi, kamu udah kembali ke kelas sebelum bel. Coba kalau belum kembali, perut laper iya,di marahin juga iya,"kataku sambil sedikit tertawa.

"Eh tapi, memang ngeselin juga kalau istirahat cuma 15 menit. Ngantri di kantinnya aja sampai berjubel-jubel. 15 menit cuma buat ngantri doang." Terlihat muka Sasya yang sedang kesal.

"Ya udah. Berarti kita harus bawa makanan dari rumah aja." Aku memberikan saran.

"Tapi, kayaknya kurang afdol aja kalau enggak beli makanan di kantin. Biar kayak yang di film-film gitu,hehe." Sasya tersenyum memperlihatkan giginya.

Guru yang masuk kali ini bukan guru pelajaran,melainkan walikelas aku yang sudah 2 minggu belum pernah masuk kelas anak-anaknya sendiri. Katanya beliau sakit,jadi baru bisa masuk ke kelas hari ini. Walikelasku bernama Bu Susi,sama seperti nama tetanggaku. Beliau memberikan kertas angket ekstrakulikuler yang harus dipilih oleh murid-murid. Ada banyak eskul di sekolah ini,tapi kami disuruh memilih maksimal 2 saja. Dan kamipun wajib mengikuti eskul pramuka.

Ekstrakulikulernya sangat menarik semua buat aku,rasanya aku pengen masuk ke semua eskul. Tapi,sayangnya hanya 2 yang boleh dipilih.

Tidak hanya aku yang bingung,teman-teman sekelas juga pada heboh. Mereka pada janjian untuk masuk eskul yang sama. Tapi,anehnya Sasya justru tidak tertarik untuk mengikuti eskul. Padahal itukan untuk perkembangan diri.

Aku tertarik untuk ikut eskul paduan suara. Supaya suara aku bisa lebih bagus lagi. Aku juga ingin sekali masuk eskul bahasa asing. Di samping itu semua aku juga ingin sekali masuk eskul ikatan remaja masjid. Siapa tahu aku bisa jadi lebih baik lagi dan rajin beribadah. Kalau bisa pilih semua eskul,aku akan pilih semuanya.

Akupun meminta pendapat sama mamahku. Setelah di pertimbangkan, aku memilih paduan suara dan ikatan remaja masjid.

***

Eskul di mulai dari minggu ini,hari jumat dan sabtu. Nah,kebetulan 2 eskul yang aku pilih waktunya bersamaan. Aku jadi bingung,mau pilih yang mana.

Kata temanku,karena eskul paduan suara banyak peminatnya, jadi harus audisi dulu dan hanya dipilih 40 orang. Waduh! Udah kaya audisi indonesian idol aja.

Akhirnya, aku memilih untuk audisi dulu. Setelah aku selesai audisi aku langsung izin untuk ke ikatan remaja masjid.

Aku deg-degan banget pas audisi. Melihat semua teman-teman yang sudah audisi, aku jadi meraaa minder,karena suaranya bagus-bagus. Aku di suruh nyanyi lagu wajib. Alhamdulillah nyanyinya lancar dan tidak ada komentar apa-apa dari pelatihnya. Dan kalian harus tahu guys,ternyata pelatihnya adalah Bu Rini. Setelah itu,aku langsung pergi ke masjid.

Begitu aku sampai di masjid, ternyata baru beberapa orang yang datang,acaranya pun belum di mulai.

 "Maaf Kak,mulai acaranya kapan ya?" Aku bertanya karena sudah menunggu setengah jam, orangnya enggak ada yang datang lagi.

"Baik,karena sudah tidak ada yang datang lagi. Kita mulai saja acaranya dengan membaca basmallah. Bismillahirohmanirohim." Kakak kelas langsung membuka acaranya dan menjelaskan apa saja kegiatan-kegiatan ikatan remaja masjid.

Kegiatannya ada bersih-bersih masjid,rebana, nonton film sejarah islam dan kajian Al-Quran. Sebenarnya banyak sekali pahala yang bisa didapat dari kegiatan itu. Tapi,sayangnya hanya sedikit sekali yang berminat bergabung dengan ikatan remaja masjid. Bisa dihitung pakai jari anggotanya tidak lebih dari 10 orang. Berbeda sekali dengan eskul paduan suara, sampai-sampai ruangannya tidak cukup untuk menampung siswa-siswi yang mau audisi. Padahal, masjid lebih luas daripada ruangan audisi paduan suara. Kata ketua ikatan remaja masjid 'kita adalah orang-orang terpilih yang dipilih langsung oleh Allah ,karena tidak semua orang bisa seperti kita yang digerakkan hatinya oleh Allah untuk memakmurkan masjid di sekolah kita ' masyaallah! Aku jadi merinding dengarnya.

***

Aku sedang belajar sejarah di kelas bersama guru sejarah. Guru tersebut meminta murid-murid untuk menulis pertanyaan yang di ucapkan oleh guru tersebut. Suasana di kelas sangat hening sekali. Aku mencari-cari bolpoinku tidak ketemu-ketemu. 

"Sya! Aku pinjam bolpoin dong,punya aku enggak tahu kemana,"ucapku berbisik-bisik pada Sasya.

"Nih!" Sasya menyerahkan bolpoin yang ia keluarkan dari tepak bolpoinnya.

Tiba-tiba guru sejarah itu menegur kami,"hey! Yang di belakang jangan mengobrol!"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status