ログインEt si le plus grand amour de ta vie ne te voyait même pas ? Eliott vit un enfer silencieux. Chaque jour, il rit avec Lena, sa meilleure amie. Chaque soir, il rêve d’elle, la désire, l’aime à en crever. Mais dans son cœur à elle, un autre nom résonne : Jack. Le garçon parfait. Le garçon qu’elle veut. « Je l’aime depuis une éternité. Et elle, elle ne voit rien. » Entre éclats de rire étouffés, regards volés et rendez-vous brisés, Eliott encaisse. Il écoute Lena lui parler de celui qu’elle aime… pendant qu’il se meurt de ne pas être “celui-là”. Mais un geste, un silence de trop, une absence, une soirée… et tout dérape. Le cœur d’Eliott déborde. Lena vacille. Et Jack n’est peut-être pas celui qu’il prétend être. « Je suis là. Toujours là. Mais combien de temps encore ? » Un triangle amoureux à la tension insoutenable. Un garçon blessé, une fille écartelée, un choix impossible. 🖤 L’amour peut-il survivre à l’amitié ? 🔥 Et si tomber amoureux de sa meilleure amie… c’était la pire erreur de sa vie ?
もっと見る“Apa kau baik-baik saja?”
Seolah terbius oleh tatapan si pria berambut pirang dengan iris hazel yang menawan itu lantas tubuh seorang wanita pemilik iris amber itu membeku, jiwanya seakan melayang meninggalkan raganya sampai. Bugh! Wanita berambut panjang gelombang yang mengenakan mini dress burgundy sebatas lutut itu tersadar ketika pria pirang itu ditendang oleh pria asing yang mengejarnya tadi, pria pirang itu jatuh tersungkur sambil memegangi pinggangnya. Wanita itu melayangkan tatapan tajam dengan alis menukik pada pria asing yang sudah menendang pria pirang tersebut, hampir saja dia mengeluarkan pistol yang selalu dibawanya kemana-mana untuk menyelesaikan semuanya. "Apa kau baik-baik saja?" giliran si wanita yang bertanya. Pria pirang itu bangkit perlahan, wajahnya sempat meringis menahan sakit, namun senyum tipis tercipta di sudut bibirnya kemudian. “Aku baik-baik saja,” gumamnya, seolah menenangkan si wanita, sebelum menoleh pada pria asing yang kini memasang ancang-ancang menyerang. Dalam sekejap, pria pirang itu melesat maju. Pukulan cepat menghantam rahang pria asing, membuatnya terhuyung. Si wanita mengerjap, tertegun menyaksikan betapa cekatannya pria pirang itu bergerak. Setiap gerakan penuh presisi, seolah ia sudah terlatih sejak lama. Ia melawan dua pria asing itu seorang diri, menggunakan tubuhnya yang bergerak lihai, sampai membuat kedua pria asing itu melarikan diri. “Apa kau baik-baik saja?” pria pirang kembali bertanya dengan napas masih terengah-engah. Pertanyaan yang sama. Wanita itu tersenyum, menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Aku baik-baik saja. Siapa nama kau?” Pria itu hanya tersenyum, menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi. Singkat cerita, mereka pergi untuk minum. Pria pirang mengajak wanita itu ke bar. Tentu saja wanita itu menerima tawaran dari pria tampan yang mencuri perhatiannya sejak pertama kali bertemu. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa nama kau?” wanita itu kembali bertanya, menatapnya lekat sambil bertopang dagu. “Aku Luke.” “Luke. Wow nama yang keren seperti nama anjingku.” Karena pengaruh alkohol, wanita itu mulai mengatakan hal tidak masuk akal dan memalukan bahkan faktanya wanita itu tidak punya peliharaan. “Ah, begitu ya.” Wanita itu terkekeh. “Ah, aku hanya bercanda. Aku Isabella. Kau bisa memanggilku Bella. Aku suka ketika orang memanggil namaku seperti itu.” Isabella tersenyum dengan mata setengah tertutup, menatap wajah tampan di sampingnya lama sampai tak sadar ia mengedipkan mata genit. Luke merasa terpancing lantas ia menyeringai. Suasana di bar tiba-tiba menjadi panas. “Kau mengantuk?” tanya Luke seraya membelai rambut Isabella lembut, menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Isabella menggeleng pelan, padahal matanya hampir sepenuhnya tertutup. Luke tiba-tiba mendekat, kali ini tangannya berpindah ke dagu Isabella, mengangkatnya lembut, mengikis jarak di antara mereka sampai akhirnya kedua benda kenyal terbelah itu bertemu. Isabella tidak mencegahnya, ia terlihat menyukainya, ia bahkan sesekali membalasnya, menyeimbangkan permainan, menarik tengkuk Luke dengan tangannya, memperdalam ciuman yang semakin intens hingga menimbulkan bunyi kecipak yang khas. Ciuman terus berlanjut, tanpa melepas, Luke membawa Isabella ke atas sofa, mengukungnya dengan tubuh kokohnya. Parfummya menusuk indra penciuman Isabella ketika Luke mendekat mencium lehernya. Aroma maskulin semacam woody atau musk menguar kuat. “Shh, ahh ....” erangan tak tertahan keluar ketika Luke menggigit lehernya. Tangan luke tergerak mengusap sensual paha Isabella, bergerak masuk ke dalam mini dress burgundy yang Isabella kenakan, meremas gundukan besar dan kencang dengan tangan besarnya seolah itu mainan yang membuat candu membuat Isabella mengigit bibir kuat seraya menarik kepalanya ke belakang, merasakan ketegangan yang naik dengan cepat. Ia kembali menyeringai setelah selesai dengan leher Isabella. “Apa kau menyukainya, Bella?” tanyanya dengan suara berat yang menggoda. Lagi-lagi Isabella terpana dengan tatapan mata dan suaranya yang menggoda, apalagi ketika dia menyebut nama Isabella dengan sebutan kesukaannya. Isabella mengalungkan tangannya kembali ke leher Luke menariknya mendekat seraya berbisik. “Malam ini aku milik kau Luke!” Luke menyeringai, akhirnya ia membawa Isabella ke kamar VVIP, melanjutkan permainan panas mereka semalaman. *** Keesokan harinya “Dari mana saja kau?” Isabella tidak pulang semalam, tentu saja Ayahnya bertanya, bahkan mungkin akan menyidaknya juga. Pria paruh baya dengan wajah bulat berjanggut menatap tajam putrinya sambil melipat tangan di depan dada. “Aku dikejar dua pria asing, Ayah. Jadi aku bersembunyi sepanjang malam. Mereka tidak membiarkan aku pergi." Isabella mengambil duduk di sofa mewah, bersikap santai agar ayahnya tidak curiga. “Siapa yang menyuruh kau pergi sendiri? sudah berapa kali Ayah bilang kalau mau kemana-mana jangan sendiri.” “Maafkan aku Ayah. Tapi aku membawa senjata untuk melindungi diriku sendiri. Ayah tidak perlu khawatir.” Isabella mencuri pandang sesekali pada ayahnya yang masih berdiri. Isabella bisa lihat ayahnya frustasi. Alex, ayahnya Isabella menghela napas seraya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengambil duduk di sofa single. “Oke, karena kau sudah pulang, hati ayah sedikit tenang sekarang. Istirahat lah, nanti siang jangan lupa dengan latihan menembak.” “Hm, tapi Ayah ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.” Dahi Alex mengernyit. Isabella membasahi bibirnya seraya memainkan jarinya seolah ragu untuk mengatakannya. “Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?” “Ayah pernah bilang padaku kalau aku boleh punya bodyguard ‘kan?” Alex mengangguk walaupun dahinya berkerut seolah sedang berpikir. “Tapi, bukannya dulu kau bilang kau tidak butuh bodyguard?” “Iya, itu dulu, tapi sekarang aku mau. Asalkan aku yang memilihnya sendiri.” “Apa kau sudah dapat orangnya?” Isabella mengangguk cepat diiringi dengan senyum mengembang di wajahnya, memikirkan seseorang yang terus berada di pikirannya sejak kemarin. “Baiklah kalau itu kemauan kau, bawa dia menemui ayah secepatnya. Ayah perlu mengetesnya terlebih dulu.” “Baik Ayah.” Alex menyunggingkan senyum kecil sebelum meninggalkan Isabella. Isabella Lancaster, putri tunggal dari keluarga Lancaster, keluarga mafia yang cukup berpengaruh dan disegani di Italia. Sejujurnya Isabella tidak ingin mengikuti jejak ayahnya, ia hanya ingin menjadi warga sipil biasa karena lingkungan ini sangat berbahaya, untungnya ayahnya mengerti. Alex tidak pernah memaksa Isabella untuk mengikuti jejaknya, ia membebaskan Isabella untuk memilih jalan hidupnya sendiri tapi ia selalu berpesan kepada putrinya untuk bisa menjaga diri dan jangan mudah jatuh cinta dengan pria asing karena pria yang baru dikenal belum tentu dapat dipercaya namun Isabella melanggarnya, Isabella jatuh cinta pada Luke. Isabella jadi merasa bersalah pada ayahnya jadi ia berencana untuk menjadikan Luke bodyguardnya agar ayahnya bisa kenal dengan Luke juga dan merestui hubungan mereka. Siang ini Isabella berlatih menembak dengan Anton, kaki tangan ayahnya yang lihai dalam menggunakan pistol dan berkelahi. Ia berlatih setiap hari. Isabella tampak berdiri tegap, memposisikan tangannya lurus ke arah sasaran sambil memicingkan mata. Dor! Isabella berhasil menembak tepat di bagian tengah target yang tercetak di papan sasaran. “Kau semakin baik nona Lancaster. Ayah kau pasti bangga.” “Terima kasih paman Anton, ini juga berkat kau.” Anton menyunggingkan senyum tipis. “Tetap fokus sampai kau mendapatkan apa yang kau inginkan,” bisik Anton tepat di sebelah Isabella. Kata-kata yang sering anton lontarkan bila ingin memberikan semangat. Drrt! tiba-tiba ponsel Anton berbunyi. “Sebentar nona, saya izin angkat telepon dulu.” Isabella menurunkan pistolnya lalu mengangguk. Beberapa saat kemudian Isabella akhirnya berlatih sendiri ketika Anton pamit undur diri karena ada urusan. Walaupun sudah sering dipuji, Isabella tidak akan berhenti berlatih sampai mahir. Ia masih sering tidak tepat sasaran, tadi itu hanya keberuntungan. Dor! “Aish, sial!” umpatnya ketika peluru meleset tak mengenai papan. Ia menghela napas lalu kembali ke posisi semula, menatap tajam papan sasaran seolah sedang melihat musuh, sekali ctek peluru keluar melesat mengenai bagian tengah papan. Senyumnya mengembang. “Not bad,” ujarnya seraya memutar pistol dengan telunjuknya. *** “Kau sudah menemuinya?” “Sudah, Ayah.” Luke sedang terlibat pembicaraan serius dengan ayahnya di ruang utama yang megah. “Apa informasi yang sudah kau dapat?” seorang pria paruh baya duduk seraya merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa. “Dia membawa pistol. Aku rasa dia membawa pistol kemana-mana untuk menjaga diri.” Bill Alonzo, Papa Luke mengubah posisi duduknya yang tadi bersilang kaki menjadi mengangkang, menautkan jari-jarinya seraya menatap lurus ke depan dengan sorot mata tajam. “Ternyata Alex membekali putrinya dengan baik.” “Apa dia mengenal kau?” tanya Bill lagi. “Aku rasa tidak.” “Bagus. Terus dekati dia, gali semua informasi tentang keluarga Lancaster darinya.” “Baik Ayah,” jawabnya mantap. Luke Alonzo adalah putra tertua dari keluarga Alonzo, keluarga mafia yang terkenal kejam dan disegani di Italia, pesaing terberat keluarga Lancaster yang memiliki kekuasaan di wilayah yang sama. Keluarga Alonzo sudah lama menguasai wilayah Sicilia dan seenaknya keluarga Lancaster datang mengambil alih kekuasaan di bagian Palermo. Itulah mengapa hubungan kedua keluarga tidak berjalan dengan baik. Pada awalnya keluarga Lancaster tinggal di Meksiko namun pindah ke Italia setelah mendapatkan catatan kriminal pertamanya di sana karena kurang luasnya jaringan yang dia punya sehingga masih sangat butuh perlindungan lalu menawarkan kerjasama bisnis pada keluarga Alonzo karena mendengar bila keluarga Alonzo adalah keluarga mafia terkuat di Sicilia namun keluarga Alonzo menolaknya karena beberapa alasan. Perang makin memanas ketika orang dari Lancaster menembak Bill dan istrinya hingga membuat istri Bill meregang nyawa dan Bill sempat koma beberapa bulan di rumah sakit. Sejak kecil Luke juga sudah diasingkan ke California, tinggal bersama neneknya. Ia tidak tumbuh di lingkungan mafia sehingga membuatnya menjadi warga sipil biasa. Kedua orangtua Luke sengaja menyembunyikan identitas anak pertamanya karena tidak ingin anaknya diincar dan tak ingin tumbuh kembang anaknya terganggu. Saat Luke beranjak dewasa, ayahnya baru meminta Luke untuk tinggal bersamanya. Itu lah mengapa banyak orang tidak mengetahui bila Luke adalah bagian dari keluarga Alonzo. bersambungQuelques minutes plus tard… Je pousse la porte de la chambre que Sébastien nous a attribuée au bout du couloir, les articulations encore raides, l'esprit complètement asphyxié. Le bruit du loquet qui s'enclenche dans la gâche résonne sous mon crâne comme le verdict d'une sentence. L'atmosphère de la pièce était glaciale à notre arrivée. Sébastien n'avait pas eu le temps d'allumer le radiateur, mais quelques heures plus tard, la suite est devenue une pièce très coquette et particulièrement chaude. Après le bain glacé et le choc thermique que j'ai subis tout à l'heure dans la piscine, je devrais être heureux de me retrouver enfin dans ce cocon de chaleur protecteur. Enfin, je l’étais encore il y a peu... quand j’étais assis à même le sol, devant les flammes, avec Léna. Là-bas, elle m’a avoué ses sentiments. Et depuis, mon cerveau est une machine à détruire mes propres espoirs. J’avoue ne plus rien comprendre à ce qui nous arrive. J’ai un mal fou à la comprendre, elle. Pendant des an
Une honte pure, brûlante, qui me monte aux joues et me donne envie de m'ouvrir le bide pour y arracher ce vide insupportable. Il l'a portée. Il n'a même pas réfléchi. Au moment où Léna a percuté l'eau, Eliott s'est brisé. Je l’ai vu à cet instant précis. Ce n'était pas l'expression d'un homme qui veut secourir une amie maladroite. C'était la gueule d'un homme auquel on arrache la chair. Une panique absolue qu'il n'a jamais eue pour moi. Jamais. Pendant tout le temps où il la massait sur le sol, où il collait ses lèvres contre les siennes pour lui redonner du souffle, je n'existais plus. Je n'étais qu'un meuble sur cette terrasse. Une intruse. Le dindon de la farce qu'on laisse mariner dans son eau chaude pendant que le vrai drame se joue ailleurs. Tu le savais, Jessy. Tu l'as toujours su. La voix dans ma tête est cruelle, mais elle a raison. Je me suis voilée la face. J'ai cru qu'avec de la patience, de la douceur, en étant la fille parfaite et sans histoires, j'arriverais à efface
Le son du corps de Léna qui percute la surface de la piscine me transperce l'esprit comme un coup de feu. Un bruit lourd, sourd, suivi du bouillonnement chaotique de l'eau glacée qui s'agite dans l'obscurité. Mon cerveau se débranche. Il n'y a plus de réflexion, plus de rationalisation, plus de doutes sur ce qui est correct ou non. Il n'y a plus que cet instinct animal qui me hurle que Léna est en danger. Je ne regarde même pas Jessy. Je ne calcule pas le froid polaire de la nuit qui mord ma peau en boxer. En une fraction de seconde, je bondis du deck en bois et je plonge directement dans la piscine.L’impact avec l’eau glacée me coupe instantanément la respiration. C’est une décharge électrique d’une violence inouïe qui fige mes muscles, mais l’adrénaline qui me pousse est bien plus forte. J’ouvre les yeux sous l’eau sombre, luttant contre la brûlure du gel. À travers le flou aquatique, je repère tout de suite sa silhouette qui s'agite de manière désordonnée. Mon blouson, lourd et to
Le silence.En fait c’est un faux calme en comparaison avec le tumulte qui agite mes pensées. Je croise mes bras contre ma poitrine, sentant une brise légère pénétrée dans la pièce mais tout mes organes sont en feu. Je fixe la bouteille qui est devant moi et je repense à ce qu’ Eliott m’a dit : je ne tiens pas l’alcool. Rien qu’avec le verre que j’ai bu, je sens déjà mon sang bouillonner et ne faire qu’un tour.Mon verre est déjà vide. La bouteille, elle, ne l’est pas encore.Je la saisis par le goulot, mes doigts tremblant légèrement, et je me sers une nouvelle rasade de vodka. Le liquide transparent coule avec un bruit sec. Je n’attends pas. Je porte le verre à mes lèvres et j’avale le tout d’un coup sec. La brûlure est immédiate, violente, salvatrice. Elle me calcine la gorge, descend dans mon œsophage et vient irradier mon estomac d’une chaleur artificielle. C’est exactement ce qu’il me faut. J’ai besoin que ça brûle à l’intérieur pour faire taire ce putain de bourdonnement dans
‘’ Lena ‘’Eliott ne veut pas qu'on parle de ce qui s'est passé hier. Pourtant, j'ai envie qu'il sache que je suis sincèrement désolée, mais il évite le sujet. Il me parle de sa mère et de leur soirée à deux. Il répète sans cesse les mêmes phrases en insistant sur le fait qu'il se soit amusé comme
Le lendemain, 08 h35Je m'installe à une table seul puis, je commande un bol de soupe et un verre de limonade. J'ingurgite mon repas tout en relisant quelques notes dans mon ordinateur.Après manger, je vais directement à l'université. J'arrive au campus à onze heures trente puis, je me dirige vers
Jack me tient toujours la main. Et dans ce simple geste, il brise une barrière. Cette couche de glace invisible entre nous, celle que j’ai rêvé de faire fondre avec la chaleur d’un baiser brûlant comme un après-midi d’été. En me prenant la main, il fait un doigt d’honneur à mes peurs, à mes doutes
Je suis arrivé au ciné dix minutes en avance pour pouvoir occuper de bons sièges. Par expérience, j'ai appris que le coin le plus tranquille est celui situé en haut, au fond, du côté gauche. C'est le coin idéal pour mater le film en toute tranquillité et en plus, il parait que ceux qui s'y asseyent












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.
レビュー