เข้าสู่ระบบMalam pertunangan Fenita dan Kemal berantakan. Tepat saat cincin akan dipasangkan, sebuah rahasia akhirnya terbuka dengan gamblang. Fenita ternyata lahir dari skandal sang Mama dengan seorang pejabat negara. Namun Kemal kembali setelah itu, dan memutuskan melanjutkan hubungan mereka. Tanpa Fenita sadar, sebenarnya Kemal hanya sedang memanfaatkan dirinya. Ketika kelicikan Kemal terbongkar, Fenita bagai dilempar ke dalam jurang terdalam. Dia menjadi percaya bahwa perempuan seperti dirinya memang tidak layak mendapatkan cinta dan kebahagiaan, sebab karma masa lalu sang mama yang harus dia pikul. Sampai satu hari seorang pengacara tampan nan mumpuni, berani mendobrak pintu kesadarannya, dan menunjukkan jalan pada Fenita untuk menjemput kebahagiaan yang selama ini dia dambakan.
ดูเพิ่มเติมSeorang pria masuk ke rumah dengan wajah merah padam. Tanpa banyak bicara, dia ke kamar mencari sang istri.
Kala ia menemukan Laila tengah mengganti sarung bantal, pria berkulit sawo matang tersebut langsung memenyeretnya keluar kamar.“Ada apa, Mas? Kenapa kamu ….”“Jangan banyak bicara, Laila!” bentak Aries dengan mata melotot tajam. “Kamu harus ikut aku sekarang juga!” Pria itu mengeratkan cengkramannya di lengan Laila, lalu menyeret wanita malang berdaster merah tadi keluar rumah.“Lepas, Mas! Sakit!” Laila meronta, mencoba melawan. Namun, tenaganya tak cukup kuat untuk menandingi cengkraman berbalut amarah sang suami. Meski begitu, Laila tak hendak pasrah dengan mudah. Ketika Aries memaksanya masuk ke mobil yang sudah terparkir di sisi jalan depan gang menuju rumah mereka, Laila berusaha menolak.Akan tetapi, semua yang dilakukan wanita itu sia-sia. Aries berhasil memaksanya masuk, lalu menutup pintu cukup kencang. “Bawa saja dia, tapi aku ingin harga yang sepadan,” ucapnya dari balik jendela kaca mobil yang terbuka.“Apa maksudmu, Mas?” protes Laila tegas. Dia berusaha membuka pintu.Namun, pria yang duduk di jok belakang mobil mini bus itu segera membekap mulut Laila. Dia tak melepaskannya, meski wanita cantik berdaster merah tadi sempat meronta. Tidak berselang lama, Laila akhirnya terkulai lemas tak sadarkan diri.“Ini.” Seorang wanita yang duduk di jok depan, menyerahkan amplop cokelat kepada Aries. “Jumlahnya sepuluh juta. Kalau istri kamu banyak peminatnya, nanti aku kasih lebih,” ujar si wanita enteng. Setelah itu, dia langsung menutup kaca jendela mobil. Mini bus hitam tadi, melaju meninggalkan Aries yang masih terpaku di tempatnya berdiri.Beberapa saat kemudianLaila yang tadi sempat pingsan, telah sadarkan diri. Wanita itu langsung terkejut, karena dia sudah dalam penampilan baru. Laila telah berganti pakaian, dengan mini dress berwarna hitam.“Astaga, akhirnya yey bangun juga,” ujar seorang waria yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu. “Yiuk, eike benerin rambutan yey.” Dia mengeluarkan peralatan make up, lalu merias Laila yang tampak kebingungan.“Gimana, Kimberly? Ajudan si bule sudah datang menjemput tuh,” ucap seorang wanita dari balik pintu.“Udin,” sahut waria bernama Kimberly tadi. Dia sempat mencubit gemas pipi Laila, sebelum beranjak keluar.“Ayo,” ajak wanita yang tadi bertanya. Tanpa menunggu jawaban, dia menuntun Laila keluar. Di dekat mobil sedan mewah hitam yang terparkir di pinggir trotoar, telah berdiri seorang pria berkemeja biru. Pria itu langsung membukakan pintu untuk Laila yang dipaksa masuk.Tak berselang lama, sedan hitam tadi melaju membelah jalanan malam ibukota. Sekitar lima belas menit kemudian, kendaraan itu memasuki area gedung apartemen mewah puluhan lantai. Tanpa banyak bicara, pria berkemeja biru tadi mengajak Laila memasuki lift khusus yang membawa mereka ke lantai teratas.“Boleh saya tahu kita ada di mana?” tanya Laila penasaran.Si pria menoleh, lalu tersenyum. Belum sempat dia menjawab, pintu lift sudah lebih dulu terbuka. “Silakan.” Pria itu mengarahkan tangannya ke depan, tanpa keluar dari lift. Setelah Laila melangkah ke dalam ruang apartemen mewah berlantai mengilap, pintu lift kembali tertutup.Laila berdiri terpaku, saat melihat seorang pria tampan berperawakan tinggi tegap yang tengah berdiri memandang ke arahnya. Dari wajah dan postur si pria, tampak jelas bahwa dia bukan warga asli Indonesia. Pria itu berjalan mendekat. Langkahnya begitu gagah dan penuh wibawa. Begitu juga dengan sorot matanya yang tampak dalam. Tenang, tapi terasa tajam dan mematikan.“Anda siapa?” tanya Laila seraya bergerak mundur.“Kamu masih bertanya aku siapa?” Pria itu balik bertanya. “Apa Lucy tidak memberitahumu?”“Lucy? Aku ….” Laila tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena si pria lebih dulu mendekat ke hadapannya. “Jangan mendekat!” cegah wanita itu sambil terus mundur, hingga punggungnya menyentuh dinding berlapis marmer.Akan tetapi, si pria tak menggubris. Dia justru semakin maju, hingga tak menyisakan jarak sama sekali antara mereka berdua. Seketika, aroma parfume yang dipakai pria tampan tadi menguar dan menusuk indera penciuman Laila. “Siapa namamu?” tanyanya. Suara pria itu terdengar berat dan dalam.“La-Laila,” jawab wanita dengan mini dress hitam tadi gugup. Belum pernah dia dihadapkan pada pria setampan itu.“Laila? Nama yang sangat manis. Cocok dengan orangnya,” ucap pria berwajah bule tadi, diiringi seringai kecil. “Panggil saja aku Wira. Aku sudah membayar uang muka kepada Lucy, untuk mendapat pelayananmu malam ini hingga besok siang. Jadi, aku tidak menerima alasan apa pun,” terang pria yang memperkenalkan dirinya dengan nama Wira tersebut.“Apa? Tidak! Aku bukan wanita penghibur!” tolak Laila tegas. Dia tak menerima, jika dirinya dianggap demikian.“Kamu pikir ini main-main, Laila?” Tatapan pria tampan tadi terlihat semakin mematikan. “Sudah kukatakan, bahwa aku telah membayar untuk pelayananmu,” tegasnya penuh penekanan, seraya mencengkram erat pergelangan tangan Laila.“Lepaskan aku!” Laila berontak, mencoba melepaskan diri dari cengkraman pria itu. “Aku wanita bersuami! Anda tidak berhak menyentuhku seperti ini!” Nada bicara Laila meninggi. Dia tidak suka diperlakukan tidak hormat seperti saat ini.Namun, sepertinya pria bernama Wira tadi tak peduli. Dia justru meletakkan tangan kiri Laila yang masih dirinya cengkram ke dinding, tepat di atas kepala wanita itu. Saat Laila hendak melawan menggunakan tangan kanan, dengan cepat Wira menahan. Alhasil, kedua tangan Laila berada dalam cengkramannya. Wira menyeringai kecil, dengan sorot mata yang tampak begitu aneh. “Haruskah kugigit bibirmu agar diam?” Suaranya begitu berat dan dalam, tapi terdengar jelas di telinga Laila. Ucapannya bahkan membuat bulu-bulu halus di tubuh wanita cantik itu meremang. Agak liar, tapi penuh godaan yang menghadirkan sensasi luar biasa.Seketika, tubuh Laila membeku. Dia memberanikan diri melawan tatapan pria bermata hazel tersebut. Laila juga harus menahan rasa pegal, karena kedua tangannya terangkat ke atas kepala.Keberanian Laila ternyata tak berlangsung lama. Wanita cantik tersebut menjadi seakan tak bertenaga, ketika merasakan hangat bibir sang pemilik apartemen mewah itu di permukaan bibirnya. Perlawanan yang awalnya Laila lakukan, tak terlihat lagi. Dia terdiam pasrah, menerima setiap lumatan dari pria bernama Wira tadi.Setahun menikah dengan Aries, tak pernah sekalipun pria itu menciumnya seperti yang Wira lakukan. Rasanya sangat berbeda, dan tentu saja menghadirkan getaran lain bagi Laila. Lama-kelamaan, wanita cantik berpostur semampai tersebut justru memejamkan mata. Laila begitu menikmati pertautannya, dengan pria yang baru dia temui beberapa saat lalu.Sesaat kemudian, Wira menghentikan ciumannya sambil tersenyum puas.“Manis." Dia melepaskan cengkraman di pergelangan tangan Laila, kemudian membopongnya menuju kamar. "Tapi, mari kita lihat, seberapa pintar dirimu.”Fenita membulatkan mata. Jadi kalau benar begitu, artinya dia bukan murni anak haram? Meskipun siri, sebenarnya Mama Erna dan Pak Galih menikah?Tiba-tiba Pak Galih merangkul Fenita dengan erat. Membuat Fenita sedikit gelagapan. Gadis itu spontan saja balas memeluk, lalu menyembunyikan wajahnya di dada Pak Galih.Sedang Pak Galih kembali menatap pada para wartawan yang sepertinya kalap mengabadikan momen mereka.“Ya, kami memang menikah siri, tapi sehabis melahirkan kami bercerai baik-baik,” desah Pak Galih.Fenita menegakkan kepala. Kembali menatap Pak Galih. Matanya sudah basah. “Benarkah?” lirihnya.Lirih sekali suara itu. Saking lirihnya, tidak dapat ditangkap oleh telinga siapa pun yang ada di sekitar situ. Sebab suara gemuruh dari para kuli tinta terus bergelombang naik. Gemuruh hebat, yang seakan-akan tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi suara lain.“Mungkin kami bisa mendengar dari Bu Erna?” teriak salah satu di antara gerombolan wartawan yang duduk di sebelah kanan. Dia me
Fenita menelan ludah. Dia sampai tidak mampu mengangguk. Namun kakinya melangkah, mengiringi ayunan kaki Pak Galih. Dia berjalan sembari menunduk, membiarkan ayahnya menuntun langkah. Sementara Mama Erna berjalan di belakangnya, berjejer dengan Keira dan Pak Ferdinand.Semakin jauh melangkah, Fenita merasa kakinya semakin lunglai. Apalagi saat melihat sebuah pintu besar yang terbuka, dan terdengar suara-suara bergemuruh dari sana. Tangan Fenita spontan meraih pinggang Pak Galih.“Tenanglah, semua akan baik-baik saja,” bisik Pak Galih sembari mengambil tangan Fenita yang sempat meremas pinggangnya. Kemudian dia genggam tangan anaknya itu.Dengan bergandengan, Pak Galih dan Fenita memasuki ruangan.Pak Ferdinand terlihat sigap mendahului, sehingga kini dia sudah berada paling depan. Sampai di depan deretan meja yang sudah diatur rapi, dia berseru dengan nada lucu, “Semua harus tertib, kalau tidak ingin ditendang keluar ya!”
“Jangan berpikir ini pemerasan, Fe,” ujar Mama Erna. Dia kembali tertawa. Kali ini sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan yang dia tangkupkan beberapa detik.“Kamu tau? Ini adalah kerja sama yang saling menguntungkan!” tandas Mama Erna sambil meluruhkan tangannya. “Pak Galih dapat nama baik, kamu dapat uang. And happy ending untuk semua.”Mama Erna bertepuk tangan, dan kembali tertawa.Kedua perempuan cantik itu reflek saling menatap.Beberapa jenak Fenita hanya bisa terpaku, sampai akhirnya Mama Erna memalingkan wajahnya. Seringai kembali muncul di wajah Mama Erna, saat itulah dengan serta merta ada sesuatu yang melintas di kepala Fenita. Dia kemudian mulai tersenyum. Dari senyum tipis menjadi semakin lebar.Setelah sedari tadi dia membiarkan Mama Erna terus menerus mentertawakannya, sekarang dia ingin sedikit membalas. Dia tegakkan kepala, dagunya sedikit terangkat.“Dan Mama dapat apa? Kok a
Kemal menghela napas. “Bu, jangan gegabah. Kita tidak boleh menunjukkan pada Fenita kalau kita menginginkan uangnya. Apalagi sampai meminta.”“Ibu kan tau sendiri, mamanya Fenita itu sepertinya sudah mencium niatku sedari awal,” lanjut Kemal. “Tadi sewaktu kami bersama, dia itu tiap detik mengingatkan Fenita bahwa aku ini mengincar uangnya. Nah, kalau Ibu begitu, nanti Fenita akan tersadar.”“Kalau Fenita sadar? Kita belum dapat apa-apa loh,” tambah Kemal. Nadanya sedikit naik.Bu Rinta mencebik. Gestur dan mimik wajahnya langsung memancarkan kekecewaan. Bola matanya memandang ke atas dengan gerakan perlahan.“Sabar ya, Bu. Kalau mau sukses harus bisa tahan diri,” Kemal menatap wajah ibunya. “Ingat, yang kita incar bukan hanya sejuta dua juta. Tapi bisa milyar. Milyar, Bu!”“Iya!” Bu Rinta memekik geram.“Kalau gitu, tolong beliin di toko online. Yang imitasi, dua puluh ribuan juga nggak apa-apa, Mal. Kalung sama gelang.” Bu Rinta berdiri. Dia melangkah, lalu mengambil sapunya.Sampai
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.