เข้าสู่ระบบPada akhirnya laki-laki yang telah menemaniku selama lima tahun itu memberiku luka, hingga membuatku tak sanggup lagi bertahan. Aku melepaskannya, meskipun aku masih mencintainya. 🌻🌻🌻 Cerita ini merupakan spin off PELAKOR ITU KAKAK IPARKU.
ดูเพิ่มเติม~Elena~
I fucked a father and son. Yes, you read that right. I didn’t stutter. I took them both. One after the other. Sometimes at the same time. And no, I don’t regret a damn thing. They were both my mates. Not one. Not either. Both. You could say the Moon Goddess smiled at me… or maybe she just wanted to watch me break. And before you sit there with your mouth hanging open like you’ve never done anything wild, let me stop you right there. Don’t act like a saint. Not here. Not when I know for a fact that every girl has had at least one dirty little thought about her boyfriend’s older brother. The only difference between me and you? I did it. I didn’t just think about it late at night with my hand between my thighs. I didn’t just dream about it or write it in my diary or whisper it into my pillow like some helpless little virgin with a forbidden fantasy. No. I let it happen. I made it happen. I opened my mouth. I spread my thighs. I looked them both in the eye and I chose sin. Twice. ~~ So it all started when I walked into that dorm room, suitcase in one hand, overpriced coffee in the other, the last thing I expected to find was him. He was leaning back in a chair like sin wrapped in skin. Shirt unbuttoned, boots crossed on the desk, one arm draped lazily over the back like he wasn’t sitting in a shared dorm room. He looked up when I walked in, and I swear to God, I forgot my name for a full three seconds. “You’re early,” he said. I blinked. “Excuse me?” He gave me this slow, arrogant smile that made my ovaries threaten to revolt against my brain. “For someone who’s about to move in with a total stranger, you look way too calm.” I looked down at my schedule, then at the room number stenciled on the door. “I think I have the wrong room.” “Nope.” He pointed lazily at the other bed. “Top bunk’s yours. Unless you prefer the bottom. I’m flexible.” “Who the fuck are you?” That was the first thing out of my mouth. No hello. No polite small talk. No “oops, wrong room.” Just pure, shocked, travel-weary rage. Because when I opened the door to Room 214..my assigned dorm, the place I was told I’d be sharing with a girl named Lila or Lisa or Lauren or whatever..it was not a girl I found. It was a man. A man. Sitting there like he owned the damn oxygen in the room, like he had been waiting for me to show up and lose my mind. He didn’t flinch. Didn’t even blink. Just sat back further into the chair, stretched his legs out like a lazy lion, and smiled like the kind of trouble mothers warn daughters about. “Oh, mind my manners,” he said, with a slow, smug drawl that made every hair on my body stand on end. “I’m Lucian Blackthorne. But you can just call me Alpha. Or Daddy. I’m not picky.” I blinked. “Excuse me?” He stood slowly, unfolding himself like he had all the time in the world. My brain tried to process what I was seeing..tall, lean muscle under a black t-shirt that hugged his chest like it had been tailored for sin, a jawline carved by divine pettiness, and eyes so sharp they looked like they’d cut through your excuses. “I’m your roommate. ,” he said casually, like that wasn’t the worst thing he could’ve said. “No. No, you’re not. I’m supposed to be staying with a girl.” “Well…” He tilted his head and dragged his eyes down my body slowly. “You’re not exactly what I was expecting either, omega.” I froze. “What did you just call me?” He smirked. “You heard me.” My pulse kicked into overdrive. “I don’t know what kind of dumb prank this is, but I am not your fucking omega. “Keep telling yourself that, sweetheart. We’ll see how long that holds up.” “What the fuck is wrong with you?” I snapped, louder than I intended, voice breaking in the middle like I’d bitten into something too raw. “I’m not your omega” He didn’t back off. Didn’t blink. He just leaned against the edge of his desk, arms folded, head tilted slightly like he was observing something fascinating under a microscope. “No?” he said, his voice smooth and low. “Then explain the scent.” I blinked. “What scent?” “You don’t smell human. Not completely. And don’t look so shocked…it’s not an insult. I like it. That soft, subtle sweetness? It’s… rare. Wild. Your scent changed the moment you walked in this room. My wolf noticed first. Then I did.” “You’re insane.” He shrugged. “Maybe. “You know what?” I said, tossing my bag onto the top bunk with more force than necessary. “I don’t care who you are or what kind of weird campus power trip you’re on, but I’m not doing this. I’m not letting some random guy talk to me like this. Lucian chuckled, low and unbothered. “Just shut up omega or I’ll shut you up with something long and veiny” “What the fuck! I’m not even yours!.” His smile dropped, and for one split second, something dark flashed in his eyes… “Not mine yet,” he said, voice barely above a whisper. “But you will be.” I took a step back, heart slamming against my ribs. “You need help.” “I need you.” “What the fuck is wrong with you?! We can’t stay together. We’ll tear each other apart!” His smirk spread like slow fire. “Yeah,” he murmured, eyes flicking down my body with maddening ease. “That’s kinda the point, sweetheart.” “Stop calling me that.” “Would you prefer naughty omega?” “I’d prefer you vanished.” He chuckled like I just flirted with him. “Feisty. I like that in a roommate.” “I’m not your fucking roommate.”(POV Mita)"Mita, aku ... menyayangimu, maukah kamu menikah denganku?" tanya Mas Fachri sambil menatapku dengan penuh cinta.Lalu masih dengan memegang tanganku, perlahan dia berlutut di hadapanku."Sekali lagi aku pinta, menikahlah denganku. Aku berjanji tidak akan menyakiti dan mengecewakanmu. Aku juga berjanji akan meletakkan kebahagiaanmu di atas segalanya."Ya Allah, rasanya tak percaya putra angkat Bu Rumini ini tengah melamarku. Bahkan dia memintaku menjadi pendamping hidupnya di depan ibunya.Dengan menahan ledakan kebahagiaan di dalam dada, kuberanikan diri untuk menatap wajah yang beberapa bulan belakangan ini selalu menghiasi mimpiku."Iya, Mas, aku mau. Aku mau menikah denganmu." Aku menjawab seraya tersenyum dan mengangguk.Mas Fachri mendekatkan tanganku ke bibirnya, kemudian dia mengecup jariku dengan begitu lembut."Yeeeyyy! Akhirnya ada yang bakal nikah nich!" Tiba-tiba entah datang dari mana, suasana yang tadi begitu romantis berubah menjadi begitu ramai bahkan cende
"Ibu ... Ibu ...! Apa yang kalian lakukan pada ibuku?! Siapa yang sudah berani melakukan ini pada seorang Sukmawati--pemilik Wicaksono grup?!" Tiba-tiba seorang perempuan masuk ke dalam kantor polisi dan langsung berteriak seperti orang kesurupan.Benar-benar tidak punya sopan santun.Dilihat dari perutnya yang sedikit membuncit, sepertinya perempuan itu sedang berbadan dua.Dan dari ucapan perempuan itu, aku yakin dia adalah Anida--putri tunggal Bu Sukma yang telah dijadikan alat untuk menjebak ayahku dulu. Anak yang sebenarnya entah benih siapa, namun ayahku-lah yang dijadikan kambing hitam atas kehamilan Bu Sukma, si ular yang sangat berbisa.Tepat di samping perempuan itu, berdiri seorang laki-laki yang kemungkinan adalah suaminya. Dan kalau tebakanku benar, berarti laki-laki itu yang bernama Bagus--mantan suami Mita."Saya. Saya orangnya yang sudah menyeret ibumu itu ke tempat ini?" jawabku dengan tenang.Mata perempuan itu membulat. Wajahnya yang putih tampak merah padam menahan
"Fachri? Apakah kamu Fachri Akbar putraku.""Iya, Pa, ini aku Akbar. Fachri Akbar putra Papa Agung," jawabku masih sambil memeluknya."Ya Allah ... terima kasih banyak. Ternyata benar firasatku selama ini, bahwa putraku masih hidup," jawabnya pelan diiringi isak tangis pilu bercampur haru.Mendengar ucapan ayah kandungku, air mataku semakin deras mengalir. Ternyata ayah memiliki ikatan batin yang cukup kuat terhadapku. Selama ini dia menyakini bahwa aku masih hidup dan tidak serta-merta mempercayai berita tentang kematianku saat kecelakaan maut itu terjadi. Mungkin juga karena jasadku yang tidak ditemukan di area TKP.Aku semakin erat memeluk tubuhnya yang kurus kering laksanakan selembar triplek. Kasihan sekali ayah kandungku, selama ini dia hanya bisa terbaring tak berdaya tanpa bisa melakukan apa pun.'Bu Sukma, dia adalah penyebab semua penderitaan kami. Perempuan iblis itu harus membayar mahal, apa yang sudah dilakukannya terhadap ayah dan almarhumah Ibu kandungku,' ucapku dalam
(POV Fachri)"Bu Sukma sudah jalan, jadi kita juga harus melanjutkan perjalanan," ucap Pak Lukman sambil bangun dari tempat duduknya."Ya, benar, ayo kita lanjutkan perjalanan. Kalau bisa, kita harus sampai lebih dulu dari Bu Sukma," sahutku, lalu ikut bangun dari bangku yang aku duduki.Bapak, Ibu, dan Bu Wulan juga melakukan hal yang sama, tanpa banyak bicara mereka segera berjalan ke arah mobil Rayhan. Sedangkan Rayhan tampak sedang berbincang dengan Briptu Hendra. Kulihat Briptu Hendra mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, kemudian melakukan panggilan telepon pada seseorang. Entah sedang menghubungi siapa, mungkin rekan, atasan, atau mungkin juga keluarganya.Setelah berbicara di telepon sebentar, Bribtu Hendra mematikan teleponnya kemudian ia masuk ke mobilnya.Bersamaan dengan itu Rayhan pun melakukan hal yang sama, putra tunggal Bu Wulan itu menaiki mobil miliknya yang di dalamnya ada Bapak yang sudah duduk di samping kursi pengemudi, sedangkan Ibu dan Bu Wulan duduk di kurs






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น