Teilen

Dalam Kekuasaan Bos Mafia
Dalam Kekuasaan Bos Mafia
authorpuspita

Chapter 01

last update Veröffentlichungsdatum: 02.10.2026 13:28:57

Touching Goncalve red border, summoned the wolf's dark soul. – A. G

⚔▫️🐺▫️⚔

Los Angeles, California.

Mobil sport dengan warna hitam mengilap memasuki kawasan tenang dengan bangunan sebuah katedral. Pintu mobil terbuka dan berpijak salah satu kaki beralas sepatu. Burung-burung lantas melintasi langit. Tiga detik kemudian sosok yang mengemudikan mobil itu keluar, tangannya yang kokoh memegang pintu seraya beranjak dari jok. Pintu mobilnya tertutup secara otomatis. Kini dia sepenuhnya di luar dan berdiri di sisi mobil.

Angin berhembus, pijakan kakinya seakan-akan memengaruhi semesta. Kulitnya yang berkilauan membuatnya bak malaikat di balik setelan suit. Mata elang abu-abu itu menatap lurus katedral di depannya. Ia melangkahkan kaki, cara dia melangkah seperti penguasa. Siapa pun yang menatap wajahnya akan bertanya-tanya, apa yang membuatnya menderita? Tercetak jelas raut wajahnya seperti dedaunan di musim gugur. Meski begitu aura dingin dan misteriusnya begitu kental. Semakin mempermainkan pikiran dengan ratusan tanda tanya.

Altherr Goncalve. Pria berusia dua puluh delapan tahun, billionaire dengan marga cukup berpengaruh—Goncalve. Marga keluarga satu ini akan membuatmu takjub akan reputasi dan kekayaannya. Ia anak dari orang tua yang berasal dari dua negara yang berbeda—Amerika dan Spanyol. Altherr yang tampan membuat wanita mana pun terpenjara akan rasa tertarik dan ingin memiliki. Kemewahan yang berada di genggamannya semakin membuat pesona dirinya sulit untuk ditolak. Tetapi Altherr bukanlah sesuatu yang mudah untuk diraih. Altherr seorang pemimpin dan pemilik Goncalve Co—perusahaan properti. Bisnisnya tidak hanya di bidang properti, ia mengelola produksi minuman berenergi dan beralkohol dengan nama brand Zvoxac.

Suara dentang jam katedral sampai di telinga Altherr. Ketika jarum panjang tepat di angka dua belas, jam akan berdentang. Suara estetik itu mengiringi langkah Altherr. Ia semakin sampai. Setiap hari Rabu, sebelum jam tepat berada di angka tiga sore, Altherr pasti datang ke gereja katedral tersebut. Dentang jam itu akan menyambut langkahnya. Sekelebat-kelebat bayangan meluncur di benaknya.

Sosok pria yang melewati bentangan jalan menuju katedral dengan senyum yang menawan, namun senyumnya menyurut ketika mendengar suara tembakan dan teriakan seorang wanita. Pria itu mengubah langkahnya menjadi berlari menuju katedral. Suara tembakan kembali terdengar.

Altherr sampai di katedral, ia berdiri di ambang pintu dan bayangan baru muncul di benaknya. Dua tubuh yang bersimbah darah dan seorang pria yang menembak kepalanya sendiri. Altherr mengepal tangannya kuat-kuat dan memejamkan mata, mencoba menepis bayangan itu. Matanya terbuka dan tampak berkaca-kaca. Altherr melanjutkan langkahnya untuk lebih masuk. Kini ia berdiri di antara bangku-bangku panjang yang terbuat dari kayu yang berada di sisi kanan dan kiri. Karpet berwarna biru terbentang di bawah kakinya. Altherr menatap ke bawah, bayangan-bayangan itu muncul lagi. Kemudian Altherr menatap ke depan dengan tatapan tajam dan kosong. Katedral ini menyimpan peristiwa menyakitkan untuk Altherr Goncalve.

Altherr berkata, "Sumpahku takkan pernah berubah. Death must be repaid with death. Tidak peduli jika semesta tidak mendukung, aku akan tetap menggenggam kehancuran atas rasa sakit ini."

Arogan dan keras, seperti itulah Altherr. Luka yang menganga sampai detik ini membawanya ke titik paling gelap.

"Tuan Alther." Seseorang memanggil namanya. Moses Elwood, pria berusia kepala tiga yang merupakan tangan kanan dari sang billionaire. "Kakek akan tiba," katanya.

Altherr diam sejenak, lalu berbalik dan melangkah menuju pintu utama katedral. Moses menggenggam tangannya sendiri ke depan dan kepalanya agak menunduk ketika Tuannya melewatinya. Kemudian Moses mengekorinya. Mobil sport Altherr lebih dulu melaju dan mobil mewah Moses di belakangnya. Mereka meninggalkan kawasan katedral.

Setibanya di LAX, Altherr keluar dari mobil sport-nya yang berhenti di lapangan lepas di area penerbangan. Di sana sudah ada beberapa bodyguard yang membuat formasi. Para pengawal yang bekerja di bawah tangan Altherr tidak hanya dari mayoritas pria, wanita juga ada. Tidak sembarangan orang, mereka dipilih secara selektif dan langsung dari Altherr Goncalve.

Altherr juga memiliki orang-orang yang menggenggam tugas lebih penting daripada para bodyguard. Jauh lebih rahasia, terikat dengan perjanjian dua kali lipat, dan mereka disebut 'Black Gonca'. Di antara semua yang bekerja secara pribadi dengan Altherr, Moses Elwood berada di posisi paling atas. Dia bahkan punya kewenangan memimpin para Black Gonca.

Mengapa Altherr memiliki sistem pribadi seketat itu? Dia memang bukan presiden, anggota pemerintahan, atau bangsawan sekalipun. Tetapi Altherr Goncalve seseorang yang sangat berpengaruh dan keberadaannya menjadi sebuah ancaman. Sehingga ia punya banyak musuh secara terbuka maupun tertutup, ia butuh banyak koneksi.

Altherr duduk di kap mobilnya dan menunggu, sesekali melihat ke langit untuk menangkap penampakan jet yang dikenalinya. Tidak lama ia melihatnya. Altherr tetap di posisi sampai private jet mewah itu mendarat beberapa meter darinya. Altherr turun dari kap dan berjalan mendekat ke jet sembari membenarkan jasnya. Pintu jet terbuka dan menurunkan tangga. Altherr berdiri dengan mata terus memantau pintu jet. Muncul seorang pria tua yang masih tampak gagah dengan penampilan classy-nya.

Ulrich Goncalve, Tuan besar di Familia Goncalve yang sangat dihormati. Beliau tinggal di Cádiz, Spanyol. Ulrich juga pebisnis dan billionaire seperti cucu tercintanya, Altherr. Si tampan Altherr naik ke tangga dan mengulurkan tangannya kepada Ulrich.

"Oh, boy! Aku tidak selemah itu," kata Ulrich dan menggenggam tangan Altherr.

Altherr dengan dingin membalasnya. "Biarkan aku menghormatimu, Ulrich."

Ulrich tertawa pelan dan berjalan bersamanya menuruni tangga. Sampai di bawah, Ulrich melepas tangannya dari Altherr dan menepuk pundak cucunya secara jantan.

"Rasa hormatmu hanya tujuh puluh lima persen, bastard. Tatapan mata elangmu itu tetap setajam pedang padaku," gumam Ulrich.

Altherr hanya menyunggingkan senyum miring. "¿Cómo estuvo tu viaje?"

《Spanish | Bagaimana perjalananmu》

"¡Buena, muy buena!"

《Spanish | Baik, sangat baik》

Moses menghampiri. "Selamat datang, Kakek!"

Ulrich menoleh dan tersenyum. Dia juga menepuk pundak Moses dengan jantan. "¡Hola, Moses! Senang melihatmu!"

Hubungan Moses dan Ulrich lumayan dekat. Panggilan "kakek" dari Moses bukanlah masalah, Ulrich sendiri yang meminta Moses memanggilnya begitu daripada "Tuan besar Goncalve" seperti orang lain yang biasa memanggilnya seperti itu.

Dering ponsel berbunyi. Altherr mendapatkan panggilan masuk dari seseorang. Altherr menerimanya. Dia tampak menyimak dan hanya berkata baiklah, lalu menutup teleponnya.

"I have to go y'all," kata Altherr. "Moses, kau tetaplah bersama Ulrich."

"Baik, Tuan," jawab Moses.

Ulrich mengernyit. "Tunggu, kau mau ke mana? Aku pikir, kita akan berbincang di mobil, Altherr."

"Hm, kita bisa mengobrol nanti." Altherr acuh tak acuh.

Selepas itu Altherr melenggang pergi dengan mobil sport-nya. Setelah mobil Altherr menghilang dari pandangan, Ulrich menghela napas panjang dan menoleh pada Moses.

"Anak itu." Ulrich menggeleng.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 08

    Seperti bos pada umumnya, Altherr memerintahkan Moses untuk menangani Dellza selama dia tidak ada, sampai gadis itu meninggalkan mansion. Dellza menatap keluar jendela melihat Altherr yang melangkah mendekati mobilnya, nampaknya dia akan pergi. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya, batin Dellza. Ia teringat ucapan si wanita kepala pelayan mansion. "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih, jika apa yang dia lakukan memang karena keinginannya sendiri." Senyuman kecil bergerak di bibirnya yang ranum. Itu artinya Altherr memang sungguh menolong dirinya. Kelihatannya pria itu bukan manusia yang punya simpati, sebab matanya yang tajam, auranya yang sedingin es, dan kadang dia berkata seenaknya. Dellza ingat bagaimana Altherr bicara kepada Ulrich dan Jarvis, ayahnya. Tidak ada sopan santun. Namun semuanya menjadi dominan dengan sifat Altherr pada Dellza; menolongnya, mengurusnya, dan yang paling berkesan saa

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 06

    "Tujuanku datang ke sini untuk—" Jarvis melirik Dellza, "—menikahinya." Bagai petir yang menyambar telinga, mereka sangat tersentak dengan kalimat itu. "Apa?!" Maeson membelalakkan mata kepada Jarvis. "Ya, aku ingin menikahi Dellza Leuzinger," tegas Jarvis. Dellza menatapnya marah. "Kegilaan apa ini?! Keinginan yang tidak masuk akal! I don't even know you!" "Keinginanku sangat masuk akal. Menikah itu sesuatu yang waras," ucapnya datar. "Dan kau yang tidak waras!" Dellza bangkit dari tempat duduknya, suaranya bergetar. "Maafkan aku, tapi memang benar kau gila. Menikah katamu?" Manka menyambung, "Tn. Jarvis, kau datang dengan membawa bencana untuk kami." Jarvis tersenyum kecut. "Menikah adalah bencana? Are you serious, Mrs. Leuzinger?" "Apa alasanmu ingin

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 09

    Pada siang hari... Sorot mata abu-abu miliknya menembus kaca mobil. Tak memperhatikan suasana di sepanjang jalan, pikirannya tenggelam dengan kebingungan. Kemana dia akan pergi? Dellza tidak tahu. Soal bibinya, dia berbohong. Dia tidak punya kerabat tinggal di Los Angeles. Kemudian Dellza menatap ponselnya yang mati. "Kau ingin menghubungi seseorang? You can use my phone." Suara Moses memecah keheningan. Dellza menoleh dan tersenyum kecil. "No, thanks." Gadis itu ada keinginan menghubungi Ibu atau Ayahnya, namun dia tak yakin. Moses masih saja memperhatikan Dellza, ia merasa gadis itu kebingungan. Ia pun menyarankan Dellza untuk kembali mansion karena Altherr sendiri tidak keberatan. Dellza juga bisa tinggal di apartemen milik Altherr. Uf, bila gadis lain di posisi Dellza saat ini pasti akan berpikir betapa enak hidupnya. Mendapat bantuan seserius itu. Namun De

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 07

    Kembali ke masa kini… "Siapa pun tidak boleh tahu jika kau adalah istriku." Kalimat barusan menyentuh otak Dellza. Sebenarnya ini bukan yang pertama pria setengah baya itu mengatakannya—ralat, tepatnya peringatan. Jarvis menarik kursi dan duduk tepat di samping Dellza, memperhatikannya. Dellza tetap menatap ke depan, tak sedikit pun menoleh padanya, pada sosok yang secara resmi menjadi suaminya. Hanya saja pernikahan yang terjadi di antara mereka sangat rahasia. Prosesi janji suci diadakan di rumah Leuzinger dan hanya dihadiri oleh Maeson, Manka, serta orang kepercayaan Jarvis sebagai saksi. Tak ada pesta; lepas begitu saja setelah pendeta menyatakan mereka suami istri. Sebelum membawa pergi Dellza, Jarvis memaparkan peringatan kepada orang tuanya untuk menutup rapat-rapat pernikahan itu sampai ia sendiri yang mengatakannya pada publik. Bila pernikahan mereka bocor, Jarvis akan memperlakukan Dellza dengan sangat buruk.

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 05

    Senyum Dellza memudar mengingat kecelakaan satu tahun lalu yang menimpa Ayahnya, sehingga Maeson harus kehilangan kemampuan berjalan atau biasa disebut lumpuh. Itu sangat mengacaukan perasaannya. Dellza tahu bukan cuma kecelakaan di persimpangan depan saja yang Maeson pikirkan, pasti dia juga trauma dengan kecelakaan yang dialami sendiri. Dellza sampai membawa Maeson ke meja makan, mereka sarapan bersama. Menit-menit telah berlalu. Waktu sarapan telah selesai, kini saatnya bagi Dellza untuk mengantar keranjang-keranjang berisi tomat yang sudah siap di mobil pick up-nya. Maeson melihat putrinya yang masuk ke dalam mobil untuk pergi. Dellza melambaikan tangannya dan melaju meninggalkan rumah. Ia menikmati perjalanannya, membiarkan jendelanya terbuka sehingga merasakan sensasi angin yang bertiup mengibaskan rambut panjangnya. Ia juga mendengarkan musik dari radio yang diputar, sesekali bernyanyi. Dellza dengan ramah menyapa para tetangga yang kebetulan berpapasan dengannya. Hal yan

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 04

    "Ini pakaian untukmu, Nona. Tuan Altherr yang memesannya untukmu," gumam Anne. Dellza terdiam sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap shopping bag dan Anne secara bergantian. "Aku ... merasa begitu merepotkan. Hum, sampaikan terima kasihku padanya." "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih jika apa yang dia lakukan karena keinginannya sendiri," balas Anne dengan nada tegas. "Saya akan kembali." Tinggallah Dellza sendirian, ia mendekat ke ranjang tidur dan melihat pakaian apa yang pria itu berikan padanya. Pajama, casual, dan classy outfit. Ia mendadak bingung, bila ia memakai pajama, apakah mungkin? Bukankah seharusnya dia harus pergi dari sini? Dellza duduk di tepi ranjang, dia memutuskan menunggu Anne. Anne datang membawakan makanan hangat untuknya. Anne meletakkan bakinya di meja. "Nona, apa yang Anda pikirkan sampai belum memakai pajama? Anda butuh sesuatu?" "Pajama? Mungkin yang casual, karena aku seharusnya pergi," jawab Dellza. Anne diam. "Bisakah a

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status