ログインDidiagnosis hanya memiliki sisa enam bulan untuk hidup, Elena memutuskan untuk segera mengakhiri hidupnya saja. Namun saat ingin melakukannya, seorang Duke berkuasa di kekaisaran menawarkan Elena untuk menghabiskan sisa hidupnya menjadi Duchess bayaran.
もっと見る“Anda hanya punya enam bulan untuk hidup, Nona Elena Roseline von Aris. Anda didiagnosa penyakit langka yang obatnya masih belum ditemukan.”
Vonis dokter tua itu terus terngiang di kepala Elena saat ia melangkah keluar dari tempat praktik yang pengap itu dengan tubuh lemas. Elena pun berjalan kaki menyusuri jalanan kota yang ramai menuju rumahnya yang agak jauh. Ia tidak punya pilihan lain; uang di sakunya sudah habis untuk menebus resep tadi, tidak tersisa sedikit pun untuk menyewa kereta kuda. Setelah hampir satu jam berjalan kaki, Elena akhirnya tiba di depan rumah kecil keluarganya. Namun, langkahnya mendadak mati sesaat ketika melihat pintu rumah terbuka lebar dan barang-barang miliknya berserakan di halaman yang kotor. "Singkirkan tangan kotormu dari ibuku!" Teriak Elena berlari mendekat dengan nafas memburu, mengabaikan rasa lemas di kakinya saat melihat salah satu pria bertubuh besar itu mendorong bahu ibunya hingga terjungkal. Si penagih hutang, pria dengan wajah seram menoleh sambil menyeringai sinis. "Oh, putri bangsawan bangkrut ini sudah pulang? Mana uangnya? Kalau tidak ada, jangan banyak bicara!" "Kami akan segera membayar, kalian tak seharusnya tiba-tiba mengusir kami seperti ini!" Jawab Elena dengan lantang. Pria itu jadi makin kesal mendapat perlawanan dari Elena, lalu dengan kasar mendorong Elena hingga gadis itu terjatuh ke tanah basah berlumpur. "Berani sekali kau berteriak padaku, hah? Kau sudah ku beri waktu tapi tak kunjung kau bayar." Tcuh! Pria itu meludah tepat mendarat di wajah Elena. Lalu menarik kra baju dan mau menampar Elena. "Jangan sakiti kakakku!" seru Leo, adik laki-laki Elena itu berlari dan mau menghentikan tangan pria penagih hutang itu. Tapi, pria itu dengan gesit malah menendang Leo hingga ia terlempar beberapa meter. "Leo!" Teriak Elena kaget. "Sudah! Cukup! Kami akan pergi! Jangan sakiti anak-anakku lagi!" Teriak ibuku dengan tangisannya yang memilukan. Bahkan, ibu Elena sampai bersujud di tanah. Membuat hati Elena makin perih. Pria itu mendengus, meludahi tanah tepat di samping kepala ibu Elena. "Tcih! Enam jam. Kalau kalian masih ada di sini setelah itu, aku tidak akan segan-segan menyeret kalian ke pasar budak." Para penagih hutang itu pergi sambil menendang peti kayu yang tersisa, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di halaman tersebut. Elena terdiam beberapa saat dalam pelukan ibu dan adiknya. Namun, tak berapa lama Elena pun akhirnya ikut menangis. “Kita harus bagaimana sekarang?” bisik adiknya putus asa dengan tangisannya yang makin deras. "Kita bereskan dulu barang-barang kita, sebelum mereka datang lagi," ucap ibu Elena sedikit menenangkan meski raut wajahnya pun sangat sedih. Langit menggelap saat mereka akhirnya berhasil mengumpulkan barang-barang yang tersisa. Ibu Elena menggenggam kantong kain kecil di tangannya dengan wajah pucat. “Ibu masih punya sedikit uang.” Suaranya pelan, seolah malu mengatakannya. “Mungkin cukup untuk menyewa kamar penginapan selama beberapa hari.” Penginapan murah. Uang terakhir. Dan hidupnya sendiri tinggal enam bulan. Dadanya terasa semakin sesak. Tiba-tiba ditengah kaburnya mata Elena yang tergenang air mata, matanya menemukan sesuatu. Selembar dokumen menyembul dari sana. Elena perlahan mengambil kertas itu. Asuransi Kematian. Matanya membaca jeli nominal uang yang tertera di sana. Dan sepertinya angka itu cukup untuk membuat ibu dan kakaknya hidup nyaman selama bertahun-tahun. Tangan Elena mulai gemetar. Terlintas pikiran agak ekstrim. Lagipula enam bulan lagi ia akan mati. Keluarganya bangkrut dan kini menjadi gelandangan. Dan satu-satunya hal berharga yang tersisa dari dirinya hanyalah nyawanya yang sekarat. Elena menunduk pelan, menatap dokumen itu lama sekali. “Apa… aku mati saja?” Malam semakin larut saat mereka akhirnya menemukan penginapan termurah di ujung kota tua. Ibu Elena menggenggam sisa uang mereka erat-erat. “Setidaknya kita masih punya tempat untuk malam ini,” bisiknya pelan. Leo mencoba tersenyum meski wajahnya lelah. “Lebih baik daripada tidur di jalan.” Mereka pun naik ke kamar kecil di lantai dua. Ruangan itu sempit dan dingin, hanya berisi satu ranjang tua dan lampu minyak redup. Leo langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi sambil menghela napas panjang. Elena berjalan mendekati jendela kecil kamar itu. Tatapannya kosong menatap jalanan gelap di luar. Lalu ia menarik napas pelan. “Ibu… aku mau keluar sebentar.” Ibu Elena langsung menoleh. “Sudah malam, Elena.” “Aku hanya ingin mencari udara segar.” Leo langsung berdiri. “Aku ikut.” Elena menggeleng pelan. “Tidak usah.” “Aku tidak akan lama.” Ia memaksakan senyum kecil sebelum mengambil mantel lusuhnya. Namun sesaat setelah pintu kamar tertutup… senyum itu perlahan menghilang dari wajahnya. Elena pun terus berjalan di tepi jalan raya besar, persimpangan yang biasanya ramai oleh kereta kuda bangsawan yang melaju kencang. Pikirannya berputar mencari cara agar kematiannya tidak terlihat seperti tindakan putus asa, Dan sampai saat ini… ia belum menemukan cara apa pun. "Jika aku bunuh diri dengan cara menggantung diri atau meminum racun, perusahaan asuransi akan curiga. Klaimnya bisa gagal," pikir Elena dengan logika yang mendadak dingin. "Kematianku harus terlihat seperti kecelakaan. Sebuah tragedi yang tak sengaja." Hanya dengan cara itu, ibu dan adiknya bisa mendapatkan uang yang sangat banyak. Tak sadar air mata Elena jatuh. Ia kemudian menghisapnya dengan kasar lalu menatap lampu-lampu kereta kuda yang mulai terlihat dari kejauhan. Ada keraguan yang menusuk ulu hatinya. Ia takut. Takut akan rasa sakit, takut akan kegelapan yang menantinya. Ia teringat tawa ibunya dulu, teringat wajah Leo yang tadi mencoba melindunginya. Namun, mengingat mereka akan jadi gelandangan lagi malam ini membuat keraguan itu terkikis habis. "Maafkan aku... tapi nyawaku yang sekarat ini adalah satu-satunya harta yang tersisa untuk kalian," bisiknya dalam hati. Suara derap kaki kuda yang dipacu cepat mulai terdengar mendekat. Elena memejamkan mata, menarik napas panjang untuk terakhir kalinya, lalu dengan satu hentakan nekat. Ia melompat ke tengah jalan tepat saat sebuah kereta kuda mewah meluncur dengan kecepatan tinggi. Namun.. CIIIIIIIIT! Suara pekikan kuda yang meringkik keras. Elena merasakan embusan angin kencang menerpa wajahnya, namun benturan yang diharapkan tidak kunjung datang. Ia terjatuh di atas aspal dingin, tubuhnya bergetar hebat karena adrenalin yang memuncak. Brakk! Pintu kereta terbuka dengan kasar. Muncul seorang pria yang turun dengan langkah lebar dengan wajah seram yang memerah. "Apa kau sudah gila?! Apa kau tak menggunakan matamu?!" bentak suara bariton yang berat dan tajam itu pada Elena yang masih tersungkur di atas aspal. "Kenapa kau tiba-tiba melompat?! Kau mau mati, hah?!" Sementara, Elena hanya diam. Ia masih dibawah. "Kenapa kau malah diam? Kau belum aku tabrak sama sekali. Tidak mungkin kakimu patah atau cedera parah! Hei!" Pria itu terus marah karena Elena malah diam dibawah sana. Elena tak takut dengan kemarahan pria itu, dan hanya mendongak perlahan, melihat sosoknya yang jangkung dengan jubah hitam yang megah. Wajahnya sangat tampan namun dingin. "Ya..." jawab Elena lemah, suaranya parau. "Memang itu tujuanku. Aku memang ingin mati." Elena tetap tidak bangkit. Ia tetap terduduk di jalanan itu dengan tatapan hampa, bibirnya yang pucat terangkat membentuk senyum pahit setelah mengatakan itu. "Apa?" Pria itu kaget dan diam sejenak lalu perlahan sedikit berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Elena. "Coba ulangi lagi perkataanmu." Ucap pria itu sambil menatap tajam seakan ia juga siap menghilangkan nyawa Elena saat itu juga. "Iya, aku memang mau mati." Ucap Elena dengan cukup lantang tapi terdengar memilukan. Pria itu terdiam lagi lalu menyipitkan matanya, menatap gadis di depannya yang tampak hancur. Bukannya merasa iba, Adrian justru melihat sebuah kesempatan di balik keputusasaan gadis itu. Adrian menarik sudut bibirnya, sebuah seringai tipis yang licik muncul di wajah tampannya. "Kau ingin mati? Kebetulan sekali. Sepertinya pertemuan kita adalah takdir yang telah digariskan," ucap Adrian dengan nada rendah yang rendah yang menggoda sekaligus berbahaya. "Daripada kau mati sia-sia seperti ini, bagaimana kalau kau habiskan sisa hidupmu dengan menjualnya padaku?”Suasana mansion seketika menjadi sunyi. Elena yang baru saja keluar dari ruang kerja ikut berhenti di ujung lorong."Anak?" Elena sedikit terkejut. Meski seharusnya ia tidak perlu merasa terkejut.Elena tidak masuk ke aula. Namun dari tempatnya berdiri, Elena masih bisa melihat sebagian kejadian di sana.Dengan suara-suara dari sana terdengar cukup jelas.Adrian perlahan menoleh, tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, Adrian tidak mengatakan apa pun.Kemudian ia mengalihkan pandangannya kepada Larissa. "Aku akan bertanggung jawab." Suara Adrian terdengar tenang.Elena hanya diam.Adrian melanjutkan, "Atas anakku."Elena tetap tenang.Bagaimanapun juga, ia tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Ia hanya tidak menyangka... Akan secepat ini.Di samping Adrian, Larissa perlahan tersenyum. Kemudian ia segera meraih lengan pria itu dan memeluknya erat.Elena masih berdiri disana. Tak in
Derren menunjuk ke arah para pengawal. "Larissa adalah putriku." Kemudian tatapannya beralih ke arah mereka. "Dan aku tidak akan segan melawan keluarga Laurent jika kalian mencoba menghalangiku."Aula utama mendadak dipenuhi ketegangan.Dua kelompok pengawal berdiri saling berhadapan.Satu perintah saja... dan mansion Laurent bisa berubah menjadi medan pertumpahan darah."Haa.." Elena menahan napas. Adrian tidak berada di sini. Namun pria itu telah meninggalkan satu perintah yang sangat jelas, jangan biarkan siapa pun membawa Larissa pergi.Elena perlahan menatap Larissa. Wanita itu berdiri di tengah ketegangan tersebut. Dan untuk pertama kalinya...Elena benar-benar yakin, Larissa bukan sekadar wanita yang disukai Adrian. Kemungkinan benar-benar cinta mati Adrian.Karena bahkan ketika Adrian tidak berada di mansion...ia masih memastikan tidak seorang pun bisa memisahkan mereka."Jangan memaksaku, Lari
Elena menoleh. "Larissa."Elena menjawab cukup dingin. Namun, senyum Larissa tidak berubah. Justru entah mengapa, senyum itu terasa sedikit aneh.Elena tidak ingin berbasa-basi. Namun setelah melihat Larissa berada di bagian mansion ini, sebuah pertanyaan akhirnya keluar dari bibirnya. "Jadi, Anda akan tinggal di sini dalam waktu lama?"Larissa sedikit memiringkan kepalanya. "Andai saya tidak tahu lebih baik, saya akan mengira Anda penasaran."Elena menatapnya. "Saya masih Duchess di mansion ini."Senyum Larissa sedikit melebar. "Namun Anda baru bisa menanyakannya sekarang?"Elena terdiam. Sindiran itu terdengar jelas. Selama ini, ia memang tidak pernah benar-benar bisa mendekati Larissa.Bahkan untuk sekadar bertanya tentang keberadaan wanita itu pun, selalu ada pelayan yang berjaga.Dokter khusus.Dan tentu saja... Adrian.Elena menghela napas pendek. "Baiklah. Jika Anda tidak ingin
Elena berbalik, hendak pergi. Namun kemudian suara wanita itu terdengar. "Semalam... bagaimana bisa kamu tidak menahan diri?"Elena refleks menghentikan langkahnya.Suara Larissa terdengar lebih pelan tapi masih bisa terdengar jelas. "Kamu... keluar di dalam, Adrian."Elena menahan napas. Lalu terdengar lagi suara Larissa. "Jika aku hamil...""Tentu. Aku akan bertanggung jawab." Suara Adrian terdengar tenang.Elena membeku.Tidak ada bantahan. Tidak ada penyesalan. Hanya jawaban yang terdengar begitu mudah.Elena sudah tak sanggup lagi, ia perlahan mundur. Kali ini, ia benar-benar pergi dari sana.---Begitu sampai di kamarnya, Elena segera menutup pintu. Ia bersandar di sana sambil memejamkan mata. "Sudah tidak bisa disangkal lagi..." gumam Elena.Adrian dan Larissa memang saling mencintai. Mungkin mereka hanya terpisah karena Larissa pernah dijodohkan dengan pria lain. Dan sekarang, setelah L
Elena dengan cepat menyeka sudut bibirnya dengan gerakan halus, mencoba menyembunyikan sisa amis darah yang masih tertinggal."Maafkan saya, Tuan Duke. Saya hanya sedikit kelelahan. Kondisi saya memang sedang agak tidak baik, tapi itu bukan sesuatu yang perlu Anda khawatirkan," jawab Elena dengan n
“Wanita seperti dia tidak pantas berada di sini, lihat saja caranya berdiri, sangat tidak berkelas.”Bisikan tajam itu terdengar oleh Elena saat ia melangkah memasuki aula istana yang dipenuhi oleh para bangsawan kelas atas.Elena meremas jemarinya yang tersembunyi di balik sarung tangan renda, men
Elena membeku di tempatnya, menanti dengan reaksi apa yang akan keluar dari mulut suaminya."Untuk apa aku harus repot-repot mengotori tanganku dengan racun dan mengambil risiko yang tidak perlu?" sahut Adrian dengan suara yang datar namun menusuk."Toh, tanpa bantuan apa pun, dia akan segera mati
“Jadi.. Elena, jangan berharap aku akan menyentuhmu.”Kalimat itu meluncur dari bibir Adrian setajam belati."Bahkan dalam mimpimu yang paling liar pun, jangan pernah membayangkan aku akan menjalankan kewajiban sebagai suami di ranjang ini," tambahnya tanpa sekalipun menoleh ke arah istrinya.Elena






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.