Suamiku Menikahiku Karena Aku Akan Mati

Suamiku Menikahiku Karena Aku Akan Mati

last update最終更新日 : 2026-07-24
作家:  Liliana Liz連載中
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
評価が足りません
58チャプター
548ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Drama

Wanita Kuat

POV 3

Kaya

Pria Dingin

Nikah Kontrak

Penyesalan

Duke

Nikah Kilat

Didiagnosis hanya memiliki sisa enam bulan untuk hidup, Elena memutuskan untuk segera mengakhiri hidupnya saja. Namun saat ingin melakukannya, seorang Duke berkuasa di kekaisaran menawarkan Elena untuk menghabiskan sisa hidupnya menjadi Duchess bayaran.

もっと見る

第1話

1. Vonis Enam Bulan

“Anda hanya punya enam bulan untuk hidup, Nona Elena Roseline von Aris. Anda didiagnosa penyakit langka yang obatnya masih belum ditemukan.”

Vonis dokter tua itu terus terngiang di kepala Elena saat ia melangkah keluar dari tempat praktik yang pengap itu dengan tubuh lemas.

Elena pun berjalan kaki menyusuri jalanan kota yang ramai menuju rumahnya yang agak jauh. Ia tidak punya pilihan lain; uang di sakunya sudah habis untuk menebus resep tadi, tidak tersisa sedikit pun untuk menyewa kereta kuda.

Setelah hampir satu jam berjalan kaki, Elena akhirnya tiba di depan rumah kecil keluarganya.

Namun, langkahnya mendadak mati sesaat ketika melihat pintu rumah terbuka lebar dan barang-barang miliknya berserakan di halaman yang kotor.

"Singkirkan tangan kotormu dari ibuku!"

Teriak Elena berlari mendekat dengan nafas memburu, mengabaikan rasa lemas di kakinya saat melihat salah satu pria bertubuh besar itu mendorong bahu ibunya hingga terjungkal.

Si penagih hutang, pria dengan wajah seram menoleh sambil menyeringai sinis.

"Oh, putri bangsawan bangkrut ini sudah pulang? Mana uangnya? Kalau tidak ada, jangan banyak bicara!"

"Kami akan segera membayar, kalian tak seharusnya tiba-tiba mengusir kami seperti ini!" Jawab Elena dengan lantang.

Pria itu jadi makin kesal mendapat perlawanan dari Elena, lalu dengan kasar mendorong Elena hingga gadis itu terjatuh ke tanah basah berlumpur.

"Berani sekali kau berteriak padaku, hah? Kau sudah ku beri waktu tapi tak kunjung kau bayar."

Tcuh!

Pria itu meludah tepat mendarat di wajah Elena. Lalu menarik kra baju dan mau menampar Elena.

"Jangan sakiti kakakku!" seru Leo, adik laki-laki Elena itu berlari dan mau menghentikan tangan pria penagih hutang itu.

Tapi, pria itu dengan gesit malah menendang Leo hingga ia terlempar beberapa meter.

"Leo!" Teriak Elena kaget.

"Sudah! Cukup! Kami akan pergi! Jangan sakiti anak-anakku lagi!" Teriak ibuku dengan tangisannya yang memilukan.

Bahkan, ibu Elena sampai bersujud di tanah. Membuat hati Elena makin perih.

Pria itu mendengus, meludahi tanah tepat di samping kepala ibu Elena.

"Tcih! Enam jam. Kalau kalian masih ada di sini setelah itu, aku tidak akan segan-segan menyeret kalian ke pasar budak."

Para penagih hutang itu pergi sambil menendang peti kayu yang tersisa, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di halaman tersebut.

Elena terdiam beberapa saat dalam pelukan ibu dan adiknya. Namun, tak berapa lama Elena pun akhirnya ikut menangis.

“Kita harus bagaimana sekarang?” bisik adiknya putus asa dengan tangisannya yang makin deras.

"Kita bereskan dulu barang-barang kita, sebelum mereka datang lagi," ucap ibu Elena sedikit menenangkan meski raut wajahnya pun sangat sedih.

Langit menggelap saat mereka akhirnya berhasil mengumpulkan barang-barang yang tersisa.

Ibu Elena menggenggam kantong kain kecil di tangannya dengan wajah pucat.

“Ibu masih punya sedikit uang.”

Suaranya pelan, seolah malu mengatakannya.

“Mungkin cukup untuk menyewa kamar penginapan selama beberapa hari.”

Penginapan murah.

Uang terakhir.

Dan hidupnya sendiri tinggal enam bulan.

Dadanya terasa semakin sesak.

Tiba-tiba ditengah kaburnya mata Elena yang tergenang air mata, matanya menemukan sesuatu.

Selembar dokumen menyembul dari sana.

Elena perlahan mengambil kertas itu.

Asuransi Kematian.

Matanya membaca jeli nominal uang yang tertera di sana.

Dan sepertinya angka itu cukup untuk membuat ibu dan kakaknya hidup nyaman selama bertahun-tahun.

Tangan Elena mulai gemetar. Terlintas pikiran agak ekstrim.

Lagipula enam bulan lagi ia akan mati. Keluarganya bangkrut dan kini menjadi gelandangan.

Dan satu-satunya hal berharga yang tersisa dari dirinya hanyalah nyawanya yang sekarat.

Elena menunduk pelan, menatap dokumen itu lama sekali.

“Apa… aku mati saja?”

Malam semakin larut saat mereka akhirnya menemukan penginapan termurah di ujung kota tua.

Ibu Elena menggenggam sisa uang mereka erat-erat.

“Setidaknya kita masih punya tempat untuk malam ini,” bisiknya pelan.

Leo mencoba tersenyum meski wajahnya lelah.

“Lebih baik daripada tidur di jalan.”

Mereka pun naik ke kamar kecil di lantai dua.

Ruangan itu sempit dan dingin, hanya berisi satu ranjang tua dan lampu minyak redup.

Leo langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi sambil menghela napas panjang.

Elena berjalan mendekati jendela kecil kamar itu.

Tatapannya kosong menatap jalanan gelap di luar.

Lalu ia menarik napas pelan.

“Ibu… aku mau keluar sebentar.”

Ibu Elena langsung menoleh.

“Sudah malam, Elena.”

“Aku hanya ingin mencari udara segar.”

Leo langsung berdiri.

“Aku ikut.”

Elena menggeleng pelan.

“Tidak usah.”

“Aku tidak akan lama.”

Ia memaksakan senyum kecil sebelum mengambil mantel lusuhnya.

Namun sesaat setelah pintu kamar tertutup…

senyum itu perlahan menghilang dari wajahnya.

Elena pun terus berjalan di tepi jalan raya besar, persimpangan yang biasanya ramai oleh kereta kuda bangsawan yang melaju kencang.

Pikirannya berputar mencari cara agar kematiannya tidak terlihat seperti tindakan putus asa, Dan sampai saat ini… ia belum menemukan cara apa pun.

"Jika aku bunuh diri dengan cara menggantung diri atau meminum racun, perusahaan asuransi akan curiga. Klaimnya bisa gagal," pikir Elena dengan logika yang mendadak dingin.

"Kematianku harus terlihat seperti kecelakaan. Sebuah tragedi yang tak sengaja."

Hanya dengan cara itu, ibu dan adiknya bisa mendapatkan uang yang sangat banyak.

Tak sadar air mata Elena jatuh. Ia kemudian menghisapnya dengan kasar lalu menatap lampu-lampu kereta kuda yang mulai terlihat dari kejauhan.

Ada keraguan yang menusuk ulu hatinya. Ia takut. Takut akan rasa sakit, takut akan kegelapan yang menantinya.

Ia teringat tawa ibunya dulu, teringat wajah Leo yang tadi mencoba melindunginya.

Namun, mengingat mereka akan jadi gelandangan lagi malam ini membuat keraguan itu terkikis habis.

"Maafkan aku... tapi nyawaku yang sekarat ini adalah satu-satunya harta yang tersisa untuk kalian," bisiknya dalam hati.

Suara derap kaki kuda yang dipacu cepat mulai terdengar mendekat.

Elena memejamkan mata, menarik napas panjang untuk terakhir kalinya, lalu dengan satu hentakan nekat.

Ia melompat ke tengah jalan tepat saat sebuah kereta kuda mewah meluncur dengan kecepatan tinggi.

Namun..

CIIIIIIIIT!

Suara pekikan kuda yang meringkik keras.

Elena merasakan embusan angin kencang menerpa wajahnya, namun benturan yang diharapkan tidak kunjung datang.

Ia terjatuh di atas aspal dingin, tubuhnya bergetar hebat karena adrenalin yang memuncak.

Brakk!

Pintu kereta terbuka dengan kasar. Muncul seorang pria yang turun dengan langkah lebar dengan wajah seram yang memerah.

"Apa kau sudah gila?! Apa kau tak menggunakan matamu?!" bentak suara bariton yang berat dan tajam itu pada Elena yang masih tersungkur di atas aspal.

"Kenapa kau tiba-tiba melompat?! Kau mau mati, hah?!"

Sementara, Elena hanya diam.

Ia masih dibawah.

"Kenapa kau malah diam? Kau belum aku tabrak sama sekali. Tidak mungkin kakimu patah atau cedera parah! Hei!" Pria itu terus marah karena Elena malah diam dibawah sana.

Elena tak takut dengan kemarahan pria itu, dan hanya mendongak perlahan, melihat sosoknya yang jangkung dengan jubah hitam yang megah.

Wajahnya sangat tampan namun dingin.

"Ya..." jawab Elena lemah, suaranya parau. "Memang itu tujuanku. Aku memang ingin mati."

Elena tetap tidak bangkit. Ia tetap terduduk di jalanan itu dengan tatapan hampa, bibirnya yang pucat terangkat membentuk senyum pahit setelah mengatakan itu.

"Apa?"

Pria itu kaget dan diam sejenak lalu perlahan sedikit berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Elena.

"Coba ulangi lagi perkataanmu." Ucap pria itu sambil menatap tajam seakan ia juga siap menghilangkan nyawa Elena saat itu juga.

"Iya, aku memang mau mati." Ucap Elena dengan cukup lantang tapi terdengar memilukan.

Pria itu terdiam lagi lalu menyipitkan matanya, menatap gadis di depannya yang tampak hancur.

Bukannya merasa iba, Adrian justru melihat sebuah kesempatan di balik keputusasaan gadis itu.

Adrian menarik sudut bibirnya, sebuah seringai tipis yang licik muncul di wajah tampannya.

"Kau ingin mati? Kebetulan sekali. Sepertinya pertemuan kita adalah takdir yang telah digariskan," ucap Adrian dengan nada rendah yang rendah yang menggoda sekaligus berbahaya.

"Daripada kau mati sia-sia seperti ini, bagaimana kalau kau habiskan sisa hidupmu dengan menjualnya padaku?”

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
58 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status